Beranda News Wisma Atlet RSDC tetap idle meski tingkat hunian turun menjadi 12,69 persen.

Wisma Atlet RSDC tetap idle meski tingkat hunian turun menjadi 12,69 persen.

Jika jumlah kasus COVID-19 meningkat, jumlah pasien di Wisma Atlet pasti akan bertambah. Dan sebaliknya

Jakarta (ANTARA) – Rumah Sakit Darurat (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, tetap mewaspadai tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan lainnya, meski hingga Kamis persen penyerapan tenaga kerja turun menjadi 12,69 persen, kata Koordinator Wisma RSDC Atlet Cemayoran, Mayjen TNI Dr. Dr Work Ratmono.

“Mungkin ada varian baru seperti varian Delta yang menyebabkan lonjakan kasus COVID-19. Jadi yang terpenting tetap patuhi protokol kesehatan,” kata Task Ratmono menjelaskan kepada wartawan tentang pentingnya waspada dalam rapat virtual di Jakarta, Kamis.

Oleh karena itu RSDC Wisma Atlet Kemayoran terus menyiapkan 7.894 kasur untuk mengantisipasi skenario terburuk, salah satunya peningkatan jumlah pasien rawat inap.

“Sekarang kami sedang melakukan konsolidasi tenaga medis. Asesmen kami lakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan,” ujar Task yang saat ini aktif mengepalai TNI Medical Center.

Hingga Kamis, jumlah pasien rawat inap di RS Atlet DCC Kemayoran mencapai 1002, dan Rabu (25/6) – 1048. Jumlah pasien rawat inap di RS Wisma Atlet Kemayoran mengalami penurunan sebanyak 46 orang dalam 24 jam terakhir.

WL, (jumlah rawat inap, red.) terus menurun. “Saat ini ada 1.002 pasien COVID-19 di Wisma Atlet dengan tingkat okupansi 12,69 persen,” katanya.

Jumlah pasien pada Kamis adalah yang terendah sejak Juni 2021. Di RS Wisma Atlet Kemayoran, jumlah pasien terbanyak tercatat pada 30 Juni 2021, yakni 7.894 orang.

Tingkat hunian Rumah Sakit Wisma Atlet menjadi salah satu indikator situasi COVID-19 di Indonesia, karena merupakan RSDC terbesar di Indonesia, kata Task.

“Jika kasus COVID-19 meningkat, jumlah pasien di Wisma Atlet pasti akan bertambah. Begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Kepala TNI Kesehatan menjelaskan, ada beberapa faktor yang membantu penurunan jumlah pasien rawat inap dan jumlah kasus positif COVID-19, antara lain kepatuhan terhadap persyaratan masyarakat dan pembatasan kegiatan.

“Kepatuhan terhadap protokol kesehatan menjadi tantangan utama dalam mencegah penularan COVID-19. Kami sendiri adalah fasilitas medis atau rumah sakit di hilir dan bertanggung jawab merawat pasien COVID-19 untuk mencegah penularan lebih lanjut. Saya berharap hubungan antara upflow dan downdraft tetap terjaga,” kata Task Ratmono.

Selain itu, vaksinasi terhadap COVID-19 juga berperan dalam mempercepat munculnya kekebalan kelompok (group immunity).kekebalan kolektif) sehingga laju penyebaran penyakit dapat dikendalikan.

“Vaksinasi terus dipercepat agar kekebalan kelompok terbentuk dan angka penularan berkurang,” kata Mayjen Satgas TNI Ratmono, dokter militer di Kebumen, Jawa Tengah.

Ia meyakini jika semua pihak bersatu padu dan konsisten mematuhi protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi, pandemi bisa cepat dikendalikan.

Tugas kita bersama untuk memutus mata rantai penularan Covid-19, ujar Satgas Ratmono.

# ingat
#sudah divaksinasi3M
#vaksin lindungi kita semua

Artikel sebelumyaJB debut album solo "SOMO: ASAP" dan lagunya "omong-omong"
Artikel berikutnyaGANGGA Rilis Album Pertama Mengajak Pendengar Untuk Menyelami Kisah Cinta