Beranda Nusantara Warga Quansing Riau menemukan tapir dengan luka tajam di matanya

Warga Quansing Riau menemukan tapir dengan luka tajam di matanya

Ketika penduduk desa pertama kali menemukannya, mata kanan tapir jantan memburuk.

Pekanbaru (ANTARA) – Tim Medis Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memeriksa tapir (Tapirus indicus), yang ditemukan warga Desa Lubuk Ambakang, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Quansing, dengan mata rusak yang diduga akibat benda tajam.

“Saat ditemukan pertama kali oleh warga, mata kanan tapir jantan mengalami penurunan fungsi sehingga kehilangan mata kanannya,” kata Riau kepada Pengurus Harian (Plh) BKSDA Hartono kepada media di Pekanbaru, Riau, Senin. …

Menurut dia, selain luka mata, sejumlah luka ditemukan di sekitar pelipisnya, diduga akibat benda tajam. Diyakini bahwa Tapir terluka karena konflik dengan manusia dan terpaksa kehilangan matanya.

Ia mengatakan, satwa tersebut bisa diselamatkan setelah BBKSDA Riau mendapat informasi dari masyarakat setempat pada Jumat (11/12). Satwa dilindungi ini berkeliaran di kebun Said Hasim di Desa Lubuk Ambakang.

“Sabtu (13 November), tim Divisi I BBKSDA Riau diturunkan ke lokasi dan berkoordinasi dengan Sekda Lubuk-Ambakang, Imas. Informasi yang diterima rombongan, bersama sekdes dan beberapa warga melaporkan, tapir sudah di kebun sepanjang hari dan tidak ditakuti orang,- kata Hartono lagi.

Setelah mereka menemukannya, tim mengambil tapir. Kemudian beri dia air dan makanan, seperti daun singkong, sebagai pertolongan pertama. Tujuannya adalah untuk mempertahankan keadaan tapir. Tim medis segera memberikan pertolongan medis untuk mencegah infeksi masuk ke dalam luka.

Selain mengidentifikasi luka, hasil lain menunjukkan bahwa tapir berusia 5 tahun dan panjang 1 meter 20 sentimeter. Pertama kali diketahui kondisinya lemah karena luka yang membusuk di tepi pelipisnya. Karena parahnya kondisi mata tapir, dilakukan perawatan lebih lanjut dan dia dievakuasi ke Pekanbaru.

“Selain itu, tapir ditempatkan di kandang kemudian diangkut ke kandang angkut BBKSDA Riau. Terima kasih atas perhatian masyarakat atas informasinya, dan jika di kemudian hari melihat satwa liar masuk ke dalam taman, mohon jangan diganggu,” kata dia.

“Yang terpenting masyarakat tidak memasang jebakan dengan alasan apapun. Karena pelakunya bisa dijerat dengan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,” ujarnya.

“Maka siapa pun yang menemukan pelanggaran atau mencurigai perburuan atau perdagangan satwa yang dilindungi harus segera melaporkannya ke Call Center KSDA Riau di 081374742981,” kata Hartono.

Artikel sebelumyaIndonesia Ingatkan Komitmen Negara Peserta untuk Implementasikan COP26 Hasil
Artikel berikutnyaTumpukan sampah di Kali Dadap, Tangerang