Beranda Nusantara Urgensi penghapusan akibat bencana alam, ancaman tenggelamnya tsunami di Jakarta

Urgensi penghapusan akibat bencana alam, ancaman tenggelamnya tsunami di Jakarta

Menurut penelitian, hal itu akan mengancam penduduk wilayah pesisir di Indonesia seperti Jakarta, Semarang dan Demak di Provinsi Jawa Tengah.

Jakarta (ANTARA). Hujan deras disertai gelombang pasang kerap menghantui Andi, warga Silinsing, Jakarta Utara, karena tempat tinggalnya berpotensi terendam banjir.

Meski tidak harus mengungsi, peristiwa alam terus mengganggu aktivitasnya dan warga pesisir Jakarta.

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden, dalam pidatonya di kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada 27 Juli 2021, mengatakan bahwa ibu kota Indonesia, DKI, Jakarta, terancam banjir karena naiknya permukaan air laut. tingkat.

Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim yang saat ini sedang menghantui seluruh dunia.

Badan antariksa AS NASA mengatakan kenaikan suhu global dan pencairan lapisan es menempatkan kota-kota pesisir seperti Jakarta dalam risiko banjir serta naiknya permukaan laut.

Peristiwa cuaca ekstrem yang lebih umum dan mematikan, kerawanan pangan dan air, dan kenaikan permukaan laut mendorong perubahan iklim dan peningkatan migrasi, kata Biden, dan menimbulkan risiko mendasar bagi komunitas yang paling rentan.

Jakarta menempati urutan kota paling rentan di dunia terhadap krisis iklim dari 576 kota besar di dunia, mengutip laporan analis bisnis Verisk Maplecroft (12/5).

Jakarta terus menderita berbagai masalah lingkungan, menurut laporan tersebut. Mulai dari penurunan muka tanah akibat pengambilan air tanah yang tidak terkendali, kekurangan air bersih, ancaman banjir dan prakiraan ancaman banjir pada tahun 2050.

Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperkirakan permukaan air laut akan naik 25-50 cm pada tahun 2050 dan 2100.

Naiknya permukaan air laut, menurut penelitian, akan mengancam penduduk wilayah pesisir di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, dan Demak di Jawa Tengah.

Adanya banjir rob juga diperparah dengan terjadinya fenomena penurunan muka tanah yang terutama terjadi di pesisir pantai utara Jawa, termasuk Jakarta, serta di Jawa Tengah di Pekalongan, Semarang dan Demak.

Potensi kerugian akibat banjir rob diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 triliun rupee. Biaya ini akan dikeluarkan untuk pembangunan tanggul pantai dan tepi laut, pengangkatan infrastruktur dan bangunan pantai hingga biaya pemukiman kembali.

LIPI juga mengidentifikasi faktor lain yang berkontribusi terhadap menyusutnya luas lahan di Jakarta, salah satunya terkait dengan penambahan gedung secara masif setiap tahunnya.

Ancaman tsunami

Tidak hanya terancam banjir, tsunami, atau naiknya gelombang laut akibat gempa kuat di selatan Jawa, juga diprediksi akan berdampak di Jakarta.

Kaitan ini senada dengan hasil kajian Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai kemungkinan tsunami akibat gempa kuat di Jawa bagian selatan yang melanda Jakarta, serta beberapa kajian lain dari mega- gempa sederhana yang dihebohkan media beberapa waktu lalu.

Koordinator Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gempa dan Mitigasi Tsunami Dariono mengatakan, secara umum, BMKG selalu mengapresiasi hasil penelitian potensi bencana skenario terburuk untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Menurut Dariono, kajian tersebut diperlukan sebagai tolak ukur langkah-langkah mitigasi tsunami. Untuk itu, masyarakat dihimbau untuk tidak panik, karena penelitian ini tidak dilakukan untuk membuat masyarakat resah, tetapi untuk mempersiapkan strategi mitigasi yang tepat dan efektif untuk mengurangi risiko bencana alam yang mungkin terjadi.

Menurut catatan sejarah, pernah terjadi tsunami menerjang pesisir Jakarta akibat bencana letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883.

Letusan dahsyat itu menyebabkan tubuh Gunung Krakatau runtuh ke laut dan letusan material yang bersentuhan dengan air laut, menyebabkan tsunami setinggi lebih dari 30 meter.

Skala tsunami mampu mendatangkan malapetaka di Pulau Onrust yang merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Seribu.

Sejak tahun 1848, Pulau Onrust dan sekitarnya digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pangkalan angkatan laut, namun fasilitas ini rusak parah akibat tsunami pada tahun 1883.

Tsunami tidak hanya melanda Pulau Onrast, tetapi juga di Pantai Batavia. Gambaran Pantai Batavia dan Tanjung Priok yang terkena tsunami saat itu sangat jelas dimuat dalam Bataviaasch Handelsblad terbitan 28 Agustus 1883.

Dilaporkan bahwa tsunami membanjiri daratan dan menenggelamkan perahu-perahu ke pantai. Saat itu, tsunami juga menyebabkan malapetaka di pelabuhan Tanjung Priok, menenggelamkan dua kapal.

Tsunami juga merusak beberapa jembatan di muara di Batavia.

Fakta bahwa tsunami tahun 1883 menyebabkan tsunami dahsyat di Selat Sunda bisa berdampak pada pantai Jakarta.

Simulasi Tsunami di Jakarta

Tsunami di Selat Sunda dapat disebabkan oleh letusan gunung berapi dan gempa tektonik yang terjadi di zona mega porous.

Menurut catatan sejarah, tsunami akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 mampu mencapai pantai Jakarta, karena tsunami pada sumbernya lebih dari 30 meter, dan tsunami tahun 2018 lebih kecil, sehingga tidak mencapai Jakarta. …

Simulasi gempa 8,7 skala richter BMKG tsunami Selat Sunda menunjukkan bahwa tsunami bisa mencapai pantai Jakarta.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa tsunami mencapai pantai Jakarta sekitar tiga jam setelah gempa 0,5 meter di Kapuk Muara – Kamal Muara dan 0,6 meter di Ankol – Tanjung Priok.

Simulasi tsunami diukur dari permukaan laut rata-rata. Dalam kasus terburuk, jika tsunami terjadi pada saat air pasang, ketinggian tsunami bisa meningkat.

Selain itu, ketinggian tsunami juga bisa meningkat jika pantai Jakarta mengalami penurunan muka tanah.

Pemodelan tsunami memiliki ketidakpastian yang sangat tinggi. Hal ini karena persamaan pemodelan sangat sensitif terhadap data dan sumber pembangkit gempa yang digunakan, kata Dariono.

Menggunakan data yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda, bahkan jika sumber tsunami bergeser sedikit, hasilnya juga akan berbeda. Inilah sebabnya mengapa hasil simulasi tsunami selalu berbeda.

“Skenario terburuk penting sebagai tolak ukur mitigasi, jadi kami mengambil pahitnya untuk lebih siap, meskipun tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi, mungkin skenario terburuk belum tentu terjadi,” katanya.

Pemerintah terus mendorong pengembangan skema pembiayaan baru untuk mendukung upaya mitigasi bencana alam akibat dampak perubahan iklim dan kejadian lain yang diakibatkan oleh perubahan iklim secara tiba-tiba. Kenaikan muka air laut, gempa bumi dan tsunami yang terjadi di pulau-pulau di Indonesia memang sangat rentan karena letak geografisnya.

Sumber pendanaan dengan skema baru dapat digunakan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menyesuaikan agenda pembangunan untuk memastikan lompatan layanan informasi yang cepat, akurat, akurat dan luas.

Pemerintah juga telah menyiapkan anggaran untuk mengantisipasi hal tersebut, kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjayitan.

Selama lima tahun terakhir, rata-rata pengeluaran untuk perubahan iklim mencapai Rp 86,7 triliun per tahun. Sekitar 76,5 persen anggaran digunakan untuk mitigasi dan aksi lintas sektor, dan 23,5 persen digunakan untuk membiayai adaptasi.

Pengeluaran pemerintah untuk perubahan iklim hanya 34 persen dari total kebutuhan pendanaan iklim tahunan. Indonesia secara konsisten berkomitmen sekitar 4,1 persen untuk aksi iklim.

Pentingnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga harus dibarengi dengan mitigasi bencana yang terampil. Yang tidak boleh dilupakan adalah terbentuknya kesiapan masyarakat untuk selalu mewaspadai “alarm” yang diberikan alam.

Artikel sebelumyaBMKG memperingatkan masyarakat tentang kemungkinan kondisi cuaca ekstrem.
Artikel berikutnyaVali: ancaman bencana ekologis di Aceh semakin meningkat