Beranda Nusantara Ular ganggu warga, BPBD Lebak siap turunkan staf

Ular ganggu warga, BPBD Lebak siap turunkan staf

Besok kami akan kirimkan tim bersama pemadam kebakaran (Damkar) untuk mencari ular sanca tersebut.

Lebak (ANTARA) –

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten, siap menurunkan personel untuk menangani ular sanca besar yang mengganggu pedagang di sepanjang jalan lingkar selatan Rangkasbitung.
“Besok kami akan mengirimkan tim pemadam kebakaran (Damkar) untuk mencari ular sanca itu,” kata Rizki Pratama, Kepala BPBD Kabupaten Lebak Febby, saat dihubungi di Rangkasbitung, Banten, Selasa.
Maraknya populasi ular sanca yang mengkhawatirkan para pedagang di jalan lingkar selatan Rangkasbitung ini diyakini karena pepohonan dan ilalang yang tumbuh di lokasi bekas kilang minyak sejak zaman penjajahan Belanda. …

Saat ini lahan bekas pabrik minyak tersebut terbengkalai, sehingga diduga sebagai sarang ular sanca dan ular kobra.

Penduduk setempat juga tidak berani memasuki kawasan kilang minyak zaman penjajahan Belanda karena banyaknya ular.

“Kami mengimbau pedagang dan warga sekitar untuk mewaspadai serangan ular piton dan ular, terutama saat musim hujan,” kata Febby.

Soleh (55), seorang pedagang di jalan lingkar Rangkasbitung selatan, Lebak Regensi, mengaku ketakutan saat melihat ular piton besar seukuran tiang listrik memakan kucing di sekitar TPA.
Panjang ular piton diperkirakan mencapai puluhan meter.

Saat ini, kata dia, ular sanca dan kobra setiap hari ditemukan di puluhan kios di sepanjang jalan lingkar selatan Rangkasbitung. …
“Kami sendiri sudah menemukan 13 ekor ayam sejak pekan lalu,” jelasnya.
Hingga saat ini, kata dia, ular sanca dan kobra berkeliaran di warung, parit atau saluran air dan di jalan raya.
Peningkatan populasi ular sanca dan kobra membuat khawatir dan menimbulkan ketakutan di kalangan penduduk.
“Kami yakin akhir-akhir ini ular mulai berkeliaran di kios, tempat pembuangan sampah, dan selokan karena musim hujan,” kata Solekh.
Senada dengan itu, Agus (55), seorang pedagang burung di Jalan Lingkar Selatan Rangkasbitung, mengatakan bahwa setiap kali membukanya, ia sering menemukan ular sanca dan ular kobra masuk ke kandangnya.

Diduga ular tersebut mencari tikus dan kucing di dekat tempat sampah yang terletak di jalan lingkar selatan Rangkasbitung.
Bahkan, kata dia, nyaris dipatuk ular saat membersihkan sangkar burung.
Kehadiran ular ini menimbulkan kecemasan dan ketakutan di kalangan pedagang, karena ular ini mengancam keselamatan jiwa.
“Kami khawatir ketika membuka kios di pagi hari, kami akan selalu waspada dan berhati-hati agar tidak bertemu ular piton dan kobra,” katanya.
Sementara itu, Yunus (50), seorang pemulung, mengaku dua kali diserang ular kobra yang berkeliaran di tong sampah di jalan lingkar selatan Rangkasbitung, namun ia beruntung bisa bergerak cepat untuk melarikan diri.
“Kami melihat seekor ular kobra yang agak besar, panjangnya sekitar lima meter, menyerang dan akhirnya lari untuk menghindari serangan ular tersebut,” katanya.

Artikel sebelumyaNicholas Saputra: Tujuan pendidikan adalah untuk mengeluarkan versi terbaik dari seseorang
Artikel berikutnyaVolume sampah di Kabupaten Tangerang mencapai 2.500 ton per hari.