Beranda Nusantara Tujuh spesies tanaman baru ditemukan oleh peneliti BRIN pada akhir tahun 2021

Tujuh spesies tanaman baru ditemukan oleh peneliti BRIN pada akhir tahun 2021

Jakarta (ANTARA) – Koleksi keanekaragaman hayati Indonesia bertambah dengan tujuh spesies tumbuhan yang merupakan penemuan baru para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir tahun 2021.

“Dengan ditemukannya spesies baru ini, keanekaragaman hayati Indonesia meningkat. Penemuan ini juga memberikan informasi tentang kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia dan mendukung penelitian lebih lanjut terkait pemanfaatannya secara berkelanjutan,” kata Sukma Surya Kusumah, Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya BRIN, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya BRIN telah menemukan tujuh spesies tumbuhan baru yang sebagian besar merupakan tanaman hias. Tujuh tipe baru: Hoya batutikarensis, Hoya buntokensis, Dendrobium dedeksantosoi, Rigiolepis argentii, Begonia robii, Begonia willemii dan Etlingera comosa.

Begonia robi. (ANTARA / HO-BRIN)

Selain itu, mereka juga menemukan subspesies mataromeoense sebagai subspesies Zingiber sangat terbatas

Surya mengatakan Badan Penelitian Ilmu Hayati (OR IPH) melalui Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya akan terus mengkaji dan mengidentifikasi jenis tumbuhan di habitat aslinya sejalan dengan program inti OR IPH terkait konservasi yang terancam punah. tanaman.

Deskripsi tanaman

Begonia robi merupakan endemik Sumatera yang memiliki batang seperti rimpang dengan daun yang sangat asimetris dan kombinasi warna hijau sebagai pangkal dan ungu-merah di tengah antara tulang dan daun sekunder. Varietas ini memiliki warna daun yang sangat menarik dan dapat dijadikan sebagai tanaman hias.

Sementara Begonia willemia merupakan jenis tumbuhan endemik pulau Sulawesi yang ditemukan di habitat perbukitan kapur dataran rendah, tumbuh pada bongkahan batugamping atau menempel secara vertikal pada dinding batu karst (batugamping). Spesies ini dikoleksi dari kawasan hutan di Kabupaten Luwuk Bangai, Sulawesi Tengah, dan merupakan hasil kerjasama antara peneliti BRIN dan peneliti Singapore Botanic Gardens Daniel S. Thomas.

Rogiolepis argentii. (ANTARA / HO-BRIN)

Wisnu Handoyo Ardi, peneliti Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, mengatakan begonia merupakan salah satu genus tumbuhan berbunga terbesar. Saat ini diketahui terdapat 2.052 spesies begonia yang tersebar di kawasan pantropis dunia, dan Indonesia dianggap sebagai salah satu pusat kekayaan begonia, terutama di kawasan Asia Tenggara yang saat ini berjumlah 243 spesies.

“Upaya pelestarian dan pengungkapan spesies baru begonia secara aktif diupayakan oleh BRIN dan saat ini telah berhasil melestarikan lebih dari 100 spesies begonia dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Visnu yang juga meyakini jumlah temuan baru akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. dan banyak lagi. lebih banyak orang menemukan hutan yang belum dijelajahi di Indonesia.

Rigiolepis argenti – semak berkayu milik suku heather. Spesies ini ditemukan dan dikoleksi pada saat kegiatan eksplorasi begonia Sulawesi tahun 2018-2019 di Kabupaten Enrekang dan Toraja Utara yaitu di perbukitan Eran Batu dan pegunungan Sesean.

Begonia willemii. (ANTARA / HO-BRIN)

Sebelumnya diketahui bahwa hanya satu spesies yang hidup di Sulawesi, yaitu: Rigiolepis henrici. Namun pada tahun 2021 dibuka tipe baru yang kedua yaitu Rigilepis argenti dijelaskan oleh peneliti dan dosen Universitas Samudra Langsa Aceh Wendy A. Mustakim dan peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Wisnu Handoyo Ardi.

Rigiolepis argenti dinyatakan sebagai spesies baru karena memiliki kombinasi karakter morfologi yang berbeda dari semua spesies Rigiolepis di Indonesia, terutama dengan spesies yang paling mirip yaitu Rigiolepos moultonii… Sifat ini dicirikan oleh adanya bulu-bulu yang persisten pada permukaan atas daun, sedangkan daun berselang-seling ditemukan di bagian bawah tangkai, tabung kelopak yang ditangkupkan, batang yang lebih panjang dan buah yang ligamen.

Ketika Etlingera koma merupakan endemik Sulawesi yang merupakan hasil eksplorasi di Pegunungan Tenten, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Ciri khasnya adalah bulu-bulu rumbai pada urat tengah, lidah daun asimetris dan bergerigi, daun pelindung berbulu tebal, kepala sari panjang dan kepala sari lebih pendek dari pada spesies terdekat yaitu Etlibgera sublimata

Artikel sebelumyaPada tahun 2021, Kejaksaan Agung akan mempertimbangkan 147.624 kasus.
Artikel berikutnyaOrang Bengkulu tidak disarankan untuk berenang di pantai.