Beranda Warganet Satu pasien COVID-19 di Garut sulit dibawa ke rumah sakit hingga meninggal

Satu pasien COVID-19 di Garut sulit dibawa ke rumah sakit hingga meninggal

Garut (ANTARA) – Pasien lanjut usia terkonfirmasi positif COVID-19, warga Sipanas, Kabupaten Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kesulitan mendapatkan pelayanan medis di rumah sakit karena penuh dengan COVID. -19 pasien dan penduduk akhirnya meninggal pada Rabu pagi.

Iqbal Gozali, kerabat keluarga pasien COVID-19 yang kesulitan mendapatkan pelayanan medis di rumah sakit, mengatakan pasien dalam kondisi serius dan kewalahan hingga keluarga membawanya ke rumah sakit, namun semua rumah sakit penuh. …

“Kakak saya kondisinya parah, sulit mendapatkan makanan, saya mencari kamar di rumah sakit di perkotaan, mereka semua bilang penuh,” kata Iqbal.

Ia mengatakan, sang kakak dinyatakan positif COVID-19 berdasarkan hasil pemeriksaan medis beberapa hari lalu dan kemudian diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

Namun, menurut Iqbal, kondisinya setiap hari berkembang dengan gejala yang parah dan sesak napas, sehingga keluarganya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

“Saya melaporkan hal-hal sepele, tetapi dia mengatakan bahwa dia harus menunggu, mengatakan bahwa dia harus diberi oksigen, tetapi tidak diberi oksigen,” katanya.

Iqbal, mewakili keluarga pasien, mengeluh tidak mendapat prioritas pelayanan rumah sakit untuk pasien dengan gejala berat dan kesulitan bernapas.

Menurut dia, pemerintah daerah sering menyebut dalam berita bahwa bangsal untuk pasien COVID-19 masih tersedia, tetapi kenyataannya mereka penuh dan mengabaikan pasien yang kondisinya dalam kondisi serius.

“Pasien dengan gejala berat sebaiknya didahulukan, misalnya jika ruangan sudah penuh harus secepatnya ditambah,” kata Iqbal.

Rita Sobaria, Kepala Dinas Kesehatan Direktorat Kesehatan Kabupaten Garut, membenarkan keadaan bangsal di rumah sakit tersebut hampir penuh akibat lonjakan kasus positif COVID-19 yang memerlukan perawatan pasien di klinik Dr Slamet. . Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Garut dan Puschema.

Menurut dia, tingkat hunian rumah sakit dengan pasien COVID-19 hingga 90 persen, dan semuanya diisi tidak hanya pasien dengan hasil terkonfirmasi positif COVID-19, tetapi juga pasien suspek COVID-19. status.

“Kasus positif dan tersangka juga butuh ruang karena tersangka juga butuh ruang, jadi rata-rata 90 persen hampir full,” katanya.

Ia mengatakan pengobatan pasien COVID-19 menjadi prioritas, dan pasien dengan gejala ringan dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah atau di lokasi yang disediakan pemerintah.

Sedangkan, menurut dia, pasien dengan kondisi sedang atau berat harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan kesepakatan terlebih dahulu dengan poliklinik setempat.

“Ini jalur koordinasi melalui Puskezmas, nantinya Puskezmas akan mengirim pasien ke rumah sakit, Puskezmas juga akan mengontrol isolasi mandiri ini,” katanya.

Hasil laporan Pokja Penanggulangan COVID-19 di Garut secara keseluruhan sejak dinyatakan darurat dengan merebaknya COVID-19 hingga Selasa (22/6). Kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Garut berjumlah 15.403 kasus, di mana 4.387 kasus berdiri sendiri. – dalam isolasi, 567 kasus diisolasi di rumah. jatuh sakit, 9.791 kasus dinyatakan sembuh, dan 658 kasus meninggal. *

Artikel sebelumyaKebijakan ganjil genap untuk kendaraan bermotor terus berlanjut di Kota Bogor.
Artikel berikutnyaPresiden menerima proposal "karantina" tapi PPKM mikro paling cocok