Beranda News Presiden menerima proposal "karantina" tapi PPKM mikro paling cocok

Presiden menerima proposal "karantina" tapi PPKM mikro paling cocok

Mengapa pemerintah memilih PPKM Mikro? Pemerintah melihat kebijakan PPKM Mikro masih merupakan kebijakan yang paling tepat untuk konteks saat ini, karena dapat ditegakkan tanpa mematikan ekonomi kerakyatan.

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo mengakui pemerintah telah menerima usulan sejumlah pihak untuk melakukan “isolasi”, namun pengenaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) bagi Mikro dinilai paling tepat untuk menekan angka tersebut. peningkatan paparan COVID-19.

“Pemerintah telah menerima banyak masukan, dan tentunya kami menyambut baik setiap masukan dari individu, kelompok atau komunitas, termasuk memberlakukan kembali AMDAL (kendala sosial skala besar) dan ‘isolasi’ mengingat lonjakan kasus positif yang sangat cepat,” katanya…. Presiden Jokovi di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu.

Pemerintah, menurut Presiden Djokovi, telah menjajaki berbagai opsi untuk memerangi COVID-19, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial dan politik di Indonesia, serta pengalaman negara lain.

“Pemerintah memutuskan PPKM Mikro masih menjadi kebijakan yang paling tepat untuk menghentikan penyebaran COVID-19 di tingkat desa, atau langsung ke akar masalahnya, yaitu masyarakat,” kata Presiden.

Yang terbaru, PPKM Mikro diperpanjang dari 22 Juni hingga 5 Juli 2021 di 34 provinsi di Indonesia.

“Mengapa pemerintah memilih PPKM Mikro? Pemerintah melihat kebijakan PPKM Mikro masih menjadi kebijakan yang paling tepat di lingkungan saat ini karena bisa berjalan tanpa mematikan perekonomian rakyat,” kata presiden.

Presiden Jokovi juga meyakini PPKM Mikro dan Isolasi memiliki esensi yang sama.

“Ini membatasi aktivitas masyarakat, jadi tidak perlu diperdebatkan. Jika PPKM Mikro terlaksana dengan baik, maka aksi di lapangan akan terus diintensifkan dan jumlah kasus harus tetap terkendali,” kata Presiden.

Persoalannya, PPKM Mikro saat ini belum komprehensif dan masih sporadis di beberapa tempat.

“Maka marilah kita semua disiplin, disiplin yang ketat untuk melawan wabah ini. Wabah ini adalah masalah nyata, penyakit ini tidak mengenal ras atau diskriminasi, semua orang tanpa memandang asal, status ekonomi, agama atau suku, semua bisa terkena. Ini penyakit yang tidak jelas siapa kita,” kata Presiden.

Menurut Gugus Tugas COVID-19 per 22 Juni 2021, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia bertambah 13.668 kasus, sehingga total menjadi 2018,113 kasus. Jumlah pasien yang dinyatakan sembuh bertambah 8.375 menjadi 1.810.136, dan jumlah kematian bertambah 335 sehingga total 55.291 meninggal.

Sementara itu, jumlah orang yang menerima vaksinasi COVID-19 dosis pertama di Indonesia sebelum Selasa (22/6) pukul 12.00 WIB mencapai 23.789.884, bertambah 524.111 dari hari sebelumnya. Sedangkan jumlah warga yang mendapat suntikan pertama dan kedua atau dosis penuh sebanyak 12.514.917, bertambah 194.531 orang dibandingkan hari sebelumnya.

# ingat
#sudah divaksinasitetap3m
#vaksin lindungi kita semua

Artikel sebelumyaSatu pasien COVID-19 di Garut sulit dibawa ke rumah sakit hingga meninggal
Artikel berikutnyaBNPT menyerap aspirasi para pihak untuk mengoptimalkan pencegahan serangan teroris radikal.