Beranda Hukum Polisi tangkap sepasang suami istri dalam kasus kasur palsu Tangerang

Polisi tangkap sepasang suami istri dalam kasus kasur palsu Tangerang

Tangerang (ANTARA). Polisi di Resor Tangerang (Polresta) dan Polda Banten berhasil mengungkap kasus pemalsuan kasur Inoac yang merugikan perusahaan hingga miliaran rupiah.

Kapolsek Tangeranga Kompol Wahyu Sri Bintoro dalam jumpa pers di Mapolres Tangeranga, Selasa, mengatakan, merek kasur palsu itu milik PT Inoac Polytecno Indonesia. Polisi kemudian langsung mengusut kasus tersebut dan berhasil menangkap dua orang tersangka yang sudah menikah berinisial T.S. (37) dan M (34), warga Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang.

“Berdasarkan laporan polisi tertanggal 16 November 2020 yang dilakukan perusahaan, bahwa produknya dipalsukan oleh Maju Jaya Furniture di Desa Daru, Kecamatan Jamba, Kabupaten Tangerang dan Gudang Jupiter Foam di Desa Tipar Raya, Kecamatan Jamba. , – dia berkata.

Ia menjelaskan, dari hasil pemeriksaan toko dan gudang milik tersangka, polisi menemukan kasur busa beberapa ukuran berlogo merek Inoac. Diantaranya terdapat 7 kasur lipat dengan berbagai ukuran, 11 sofa busa dengan berbagai ukuran, 84 kasur busa, 26 corner box, 13 corner box merk EFV, corner box 3M Inoac.

“Sedangkan lainnya, seperti paket kartu garansi 5 tahun berlabel PT Inoac Polytecno Indonesia, satu buku penjualan, serta 9 dokumen perjalanan dan 2 rim kertas kuitansi,” katanya.

Dia bersaksi bahwa dua tersangka, seorang suami dan istri, terlibat dalam perdagangan barang palsu dengan sistem dua penjualan, ketika tersangka T.S. menjual barangnya di gudang, dan M. menjualnya di toko.

“Mereka menjualnya dengan harga berkisar antara 1 hingga 1,5 juta rupiah. Dan kalau beli lewat gudang, mereka jual mulai Rp 800 ribu hingga Rp 1,3 juta,” ujarnya.

Dia mengatakan kepada penyelidik bahwa kedua tersangka menjalankan bisnis pemalsuan dari 2016 hingga 2021 dengan keuntungan bulanan Rs 50 hingga 100 juta.

“Dalam satu bulan mereka bisa menjual 30 kasur hingga 50 kasur terjual melalui toko. Tapi kalau lewat gudang bisa mencapai 1000 kasur sebulan, bahkan dalam lima tahun ini keuntungannya bisa 10 miliar rupiah,” ujarnya.

Atas perbuatannya, lanjut Kapolri, para tersangka akan dijerat dengan pasal berlapis, yaitu ayat (1) pasal 100 dan ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 tentang Tanda dan indikasi geografis atau pasal 102 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda 200 juta sampai 200 miliar rupiah.

Artikel sebelumyaBNPT: JI dan JAD Melarang Organisasi yang Akan Dianiaya Secara Kasar pada 2021
Artikel berikutnyaKelola Akselerasi Transformasi Digital, Menkominfo: Sektor Infokom Tumbuh Positif