Beranda Hukum Polisi Cyber ​​​​dan FBI Bekerja Sama untuk Menyelidiki Kejahatan Dunia Maya Internasional

Polisi Cyber ​​​​dan FBI Bekerja Sama untuk Menyelidiki Kejahatan Dunia Maya Internasional

Jakarta (ANTARA) – Departemen Kejahatan Siber Polri (Dittipid Siber) bekerja sama dengan Seksi Siber Federal Bureau of Investigation (FBI) mengidentifikasi jaringan kejahatan siber internasional yang menjangkau beberapa negara.

Direktur Tipidsiber Polri Brigadir Jenderal Paul Asep Edi Suheri mengatakan delegasi polisi sibernya, bersama dengan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, bertemu dengan pejabat siber FBI dan perwakilan dari kantor FBI setempat di Washington DC. Selasa (30.11) lalu.

“Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah lebih lanjut untuk bekerja sama dalam mengungkap jaringan cybercriminal internasional yang melibatkan banyak negara,” kata Brigjen Asep dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu di Jakarta.

Menurutnya, selain membahas kasus peretasan yang ditangani masing-masing divisi, pertemuan tersebut juga membahas model-model ancaman siber yang ada di masing-masing negara.

Ini bertujuan untuk memperluas upaya kolaboratif dalam kasus-kasus di mana pelaku dan korban berasal dari Indonesia, serta dari Amerika Serikat dan negara lain.

“Pertemuan itu juga membahas keberhasilan pengungkapan dan penangkapan mereka yang bertanggung jawab atas penjualan alat peretasan yang digunakan untuk meretas akun pengguna aplikasi “peluncuran” internasional,” jelas Asep.

Asep mengatakan, praktik penjualan alat atau kode peretasan ini menargetkan lebih dari 70.000 akun di 43 negara. Menurut hasil pencarian sementara, kerugian dari kejahatan ini melebihi 27 miliar rupee.

“Jumlah uang dan korban masih bisa bertambah seiring perkembangan kasus,” katanya.

Brigjen Asep menambahkan, sejauh ini Dittipid Cyber ​​​​Bareskrim Polri telah menyelidiki beberapa korban di beberapa negara bagian AS seperti New York, Washington dan Los Angeles atas pengungkapan jaringan cybercrime internasional.

Menurut Asep, kerja sama penyidikan ini didukung sejumlah pihak, mulai dari FPI dan Konsulat Jenderal Indonesia (KJRI) di masing-masing negara.

“Kegiatan ini juga didukung oleh FBI dan KJRI di masing-masing negara bagian, terutama terkait koordinasi teknis pemeriksaan yang dilakukan oleh tim cyber police,” kata Asep.

Artikel sebelumyaLima desa di Aceh Utara terendam banjir
Artikel berikutnya98,6 juta orang telah divaksinasi dari dosis penuh COVID-19.