Beranda Hukum PKC Perpanjang Penahanan untuk Mantan Direktur Utama Sarana Jaya Yori Cornelis

PKC Perpanjang Penahanan untuk Mantan Direktur Utama Sarana Jaya Yori Cornelis

Jakarta (ANTARA) – Komisi Pemberantasan Korupsi (PKT) kembali memperpanjang penahanan mantan Direktur Perumda Pembangunan Saran Jaya Yori Cornelis Pinontoan (YRC).

Yori menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan tanah di Munjul, Desa Pondok Ranggon, Kecamatan Chipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta pada 2019.

“Tim penyidik ​​kembali memperpanjang penahanan tersangka YRC menjadi 30 hari, berdasarkan putusan Ketua Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat, dari 25 Agustus 2021 hingga 23 September 2021 di Rutan PKC di Jakarta Pusat. Pomdam Jaya Guntur,” kata Juru Bicara PKT Ali Fikri dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan, mengingat lamanya penahanan, tim penyidik ​​akan terus melengkapi berkas kasus tersangka Yori dengan memanggil saksi.

Selain itu, dalam pemeriksaan tersangka Yuri dan kawan-kawan, PKC pada Kamis juga memanggil saksi Yuriska Lady Enggraeni sebagai notaris.

Selain Yori, PKC menetapkan empat tersangka lainnya, yakni Direktur PT Adonar Propertindo Tommy Adrian (TA), Wakil Direktur PT Adonara Propertindo Anja Runtuvene (AR), Direktur PT Aldira Berkah Abadi Makmoor (ABAM) Rudy Hartono Iskandar. (RHI) dan satu tersangka adalah PT Adonara Propertindo Corporation.

PKC menduga kerugian keuangan pemerintah setidaknya Rs 152,5 miliar.

PKC menjelaskan bahwa pada awalnya, Sarana Jaya, sebuah perusahaan tanah dan konstruksi, sedang mencari tanah di Jakarta untuk digunakan sebagai unit bisnis atau bank tanah.

Pada 4 Maret 2019, Anya bersama Tommy dan Rudy menawarkan kepada Sarana Jaya sekitar 4,2 hektare lahan di Munjul. Namun, pada saat itu, hak atas tanah itu masih sepenuhnya dimiliki oleh Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Carol Boromeus.

Kemudian Anya dan Tommy bertemu dengan Kongregasi Suster Cinta Kasih Carolus Boromeus di Yogyakarta, kemudian disepakati ada pembelian tanah di Munjul, dan disepakati harga tanahnya adalah 2,5 juta rupiah per meter, jadi total biayanya adalah 104,8 miliar rupiah.

Pembelian tanah pada 25 Maret 2019 langsung diselesaikan oleh Anya dan Tommy sebagai akad jual beli, serta uang muka sekitar Rp 5 miliar melalui rekening bank atas nama Kongregasi Suster-Suster Mercy. Carol Boromei.

Pelaksanaan penyerahan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dan tanah girik dari Kongregasi Suster Cinta Kasih Carolus Boromeus melalui notaris yang ditunjuk oleh Anya.

Anya, Tommy, dan Rudy kemudian menawarkan tanah Saran Jaya seharga Rs 7,5 juta per meter dengan total Rs 315 miliar.

Diduga ini adalah negosiasi palsu dengan harga yang disepakati sebesar Rs 5,2 juta per meter, total Rs 217 miliar.

Untuk itu, pada tanggal 8 April 2019, penandatanganan kontrak jual beli dengan notaris di kantor Saran Jaya antara pembeli (Yori) dan penjual (Anya) dan pembayaran sebesar 50 persen atau sekitar Rs 108,9. Rekening bank Anya di bank DKI menerima satu miliar.

Selang beberapa waktu, atas perintah Yuri, Sarana Jaya melakukan pembayaran kepada Ana sebesar Rp 43,5 miliar.

Artikel sebelumyaBRIN: Ciptakan penemuan dan inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian
Artikel berikutnyaGugus Tugas COVID-19 Bogor Mulai Vaksinasi Ibu Hamil dengan Vaksin Moderna