Beranda Hukum PKC Menyesal Azis Syamsuddin Tertangkap dalam Kasus Suap

PKC Menyesal Azis Syamsuddin Tertangkap dalam Kasus Suap

Kita tentunya semua anak bangsa sangat menyayangkan perbuatan para pelaku korupsi, termasuk yang dilakukan AZ.

Jakarta (ANTARA) – Komisi Pemberantasan Korupsi (PKT) sangat menyayangkan tindakan Wakil Ketua DPR RI Azis Shyamsuddin (Arizona) yang terlibat kasus dugaan suap di Kabupaten Lampung Tengah milik PKC.

“Kami tentu kita semua anak negara sangat menyayangkan tindakan para pelaku korupsi, termasuk yang dilakukan oleh AZ,” kata Ketua PKC Firli Bakhuri saat jumpa pers di gedung PKC di Jakarta, Sabtu pagi. .

Firli mengatakan Azis sebagai penyelenggara negara dan wakil rakyat harus menjadi contoh agar tidak melakukan korupsi.

“Karena sesungguhnya sebagai penyelenggara pemerintahan dan wakil rakyat yang telah mendapat amanah rakyat, hal ini tidak seharusnya kita lakukan dan harus menjadi contoh bagi kita semua tentang dharma kita, karya kita untuk bangsa, serta dedikasi kita untuk perjuangan. Tanah Air, agar terus terhindar dari praktik korupsi. Dan tentunya kita memimpikan Indonesia bebas korupsi,” ujarnya.

Firli juga menegaskan bahwa PKC tetap berkomitmen memberantas korupsi tanpa pandang bulu.

“Sejak awal, kami selalu menyatakan bahwa PKC tetap berkomitmen memberantas korupsi terhadap siapa pun, karena prinsip PKC tidak pernah pandang bulu terhadap para pelaku korupsi,” kata Firli.

Dalam kasus tersebut, PKC menduga Azis menyuap mantan penyidik ​​PKC Stepanus Robin Pattuy (SRP) sebesar Rs 3,1 miliar.

“Sejak komitmen awal transfer uang dari AZ ke SRP dan MH (Maskur Hussein/Pembela) sebesar Rs 4 miliar, baru terealisasi Rs 3,1 miliar,” kata Firli.

Firli menjelaskan, sekitar Agustus 2020, Azis yang merupakan politisi Partai Golkar menghubungi Robin dan meminta bantuan dalam kasus yang melibatkan Azis dan Aliza Gunado (AG) yang saat ini sedang diselidiki PKC.

Aliza Gunado adalah pegawai Partai Golkar, mantan wakil ketua Angkatan Pemuda PP Partai Golkar (AMPG).

“Selain itu, SRP juga menghubungi MH untuk ikut mengamankan dan menangani kasus tersebut,” kata Firli.

Setelah itu, lanjutnya, Maskur menyuruh Azis dan Alize menyiapkan masing-masing Rp 2 miliar.

“SRP juga merujuk langsung ke AZ mengenai permintaan jumlah uang yang ditunjukkan, dan kemudian disetujui oleh AZ. Artinya ada kesepakatan,” ujarnya.

Selain itu, Firli mengatakan Maskur diduga meminta uang muka kepada Azis sebesar Rp 300 juta.

“Secara teknis, transfer uang dari Arizona dilakukan dengan cara transfer ke rekening bank menggunakan rekening bank milik MH. Kemudian SRP mengirimkan nomor rekening bank ke AZ, ”katanya.

Sebagai bentuk komitmen dan tanda penyelesaian, kata Firli, Azis yang menggunakan rekening atas namanya sendiri diduga mengirimkan uang senilai Rp 200 juta secara bertahap ke rekening milik Muskur.

“Kembali pada Agustus 2020, SRP juga diduga datang ke pertemuan dengan AZ di kediaman dinasnya di Jakarta Selatan untuk kembali menerima uang bertahap ke AZ, yaitu $ 100.000, S $ 17.600 dan S $ 140.500, ”katanya . dikatakan.

Ia bersaksi bahwa uang valas tersebut kemudian ditukar oleh Robin dan Maskur di “kantor penukaran” menjadi mata uang rupee dengan menggunakan identitas pihak lain.

Dalam hal ini, Azis diduga melanggar pasal 5 ayat (1), huruf a, pasal 5 ayat (1), huruf b, atau pasal 13 UU 31.
1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Artikel sebelumyaAzis Shyamsuddin ditahan oleh PKC
Artikel berikutnyaPKC menetapkan Azis Shyamsuddin sebagai tersangka