Beranda News Perjalanan cinta tanah air

Perjalanan cinta tanah air

Jakarta (ANTARA) – Pertukaran pemuda ke luar negeri sudah menjadi dambaan banyak anak muda Indonesia sejak dulu.

Impian menjadi wakil Indonesia di negeri asing telah menyulut ambisi di kalangan generasi muda Indonesia.

Satu-satunya kendala adalah kurangnya keberanian dan kepercayaan diri untuk mendaftar dan mengikuti seleksi. Buah-buah manis akan dipetik dari mereka yang gigih berjuang untuk mewujudkan mimpinya.

Namun, orang sering bertanya-tanya apa hasil pertukaran pemuda? Apakah program menghasilkan hadiah hanya untuk kerabat terdekat? Atau hanya untuk merapikan resume Anda untuk melamar pekerjaan?

Padahal, berkat pertukaran pemuda, bisa tercipta generasi penerus bangsa yang cinta tanah air, khususnya Indonesia. Sosok yang bangga dengan negaranya mulai terbentuk dan juga memahami pentingnya toleransi antar perbedaan.

Setidaknya, itulah yang dirasakan Adrian Rustam. TETAPI Pemimpin pemuda untuk kontingen Indonesia dalam program kapal pemuda ASEAN-Jepang 2018.

Program Kapal Pemuda ASEAN-Jepang, juga dikenal sebagai Kapal untuk Program Pemuda Asia Tenggara dan Jepang (SSEAYP) adalah salah satu program pertukaran pemuda yang diselenggarakan oleh pemerintah Jepang untuk membangun persahabatan, pengertian dan saling menghormati antara Jepang dan negara-negara anggota ASEAN.

Program ini dilaksanakan setiap tahun dan di Indonesia program ini beroperasi di bawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Menjelang pandemi COVID-19, 28 pemuda terpilih dari berbagai provinsi di Indonesia akan berkesempatan mengikuti program pertukaran ini dan mengarungi lautan di atas kapal pesiar yang dikenal dengan nama Nippon Maru.

Sebanyak 28 anak muda dari berbagai lapisan masyarakat akan mengunjungi Negeri Sakura (dan negara-negara ASEAN yang menjadi tujuannya) di bawah satu spanduk, yaitu Spanduk Merah Putih. Mereka mengemban satu misi diplomatik, yaitu mengharumkan nama Indonesia.

Lantas bagaimana program ini dapat memperkuat kecintaan anak muda terhadap Indonesia?

Memahami keragaman

Toleransi adalah fondasi paling kokoh yang harus dimiliki kaum muda dan perempuan dalam program pertukaran ini. Jan, panggilan akrab Adrian, menunjukkan bahwa latar belakang yang berbeda mempengaruhi cara berpikir dan kebiasaan seseorang.

Beradaptasi dengan perbedaan ini bukanlah tugas yang mudah bagi peserta SSEAYP. Seringkali, perbedaan pandangan dunia menyebabkan perselisihan dalam proses diskusi dan pengambilan keputusan.

Untuk mengatasi hal tersebut, penting untuk menerapkan nilai-nilai toleransi dan saling menghargai perbedaan pendapat saat melakukan interaksi.

“Kami (kontingen Indonesia, red.) memang menerapkan toleransi dalam program tersebut,” kata Yang menjawab pertanyaan ANTARA dari Jakarta.

Yang mengalami perbedaan budaya tidak hanya dalam interaksinya dengan negara-negara ASEAN dan Jepang. Pasalnya, kontingen Indonesia yang terdiri dari anak-anak muda dari 28 provinsi ini juga memiliki pola pikir dan kebiasaan yang berbeda.

Namun, ketika setiap peserta mulai terbuka dan menerima perbedaan yang muncul selama program pertukaran, di sinilah keindahan yang sebenarnya dapat dinikmati.

Yang mengatakan bahwa dia belajar banyak dari keragaman yang dia temui selama program. Kesatuan perbedaan menciptakan harmoni yang begitu kaya akan pelajaran, keunikan dan perspektif baru.

Ketika Anda memahami esensi dari setiap perbedaan, cinta Anda untuk negara Anda akan tumbuh lebih kuat.

negara cinta

Pemuda yang mewakili Provinsi Sulawesi Tengah ini berbagi cerita tentang penampilan kontingen Indonesia di medan pertempuran. Presentasi nasional dilakukan di atas kapal pesiar. Indonesia menampilkan tarian yang berbeda dari setiap provinsi, dan saat itu Adrian menampilkan tarian simbal.

Selain menari, kontingen Indonesia juga membawakan berbagai lagu, di antaranya “Pancasila Rumah Kita” karya Frankie Sahilatua. Lagu tersebut dinyanyikan oleh masyarakat Indonesia dengan pakaian adat daerah masing-masing.

“Negara lain kaget melihat Indonesia,” kata Yang merujuk reaksi negara lain terhadap keragaman kontingen Indonesia.

Negara lain yang berpartisipasi dalam program ini adalah Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Filipina, Thailand, Kamboja, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Jepang.

Adrian mengatakan, keragaman budaya Indonesia, serta keindahan alam yang disaksikan oleh peserta pertukaran saat presentasi negara Indonesia, membuat kontingen lain ingin berkunjung ke Indonesia, bahkan tinggal dan bekerja di Indonesia.

Pandangan kontingen lain turut menumbuhkan kebanggaan di kalangan anak muda di kontingen Indonesia. Perasaan yang terbentuk memperkuat rasa cinta tanah air di kalangan pemuda kontingen Indonesia.

Rasa cinta tanah air memberikan dorongan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan berbagai potensi yang dimiliki Indonesia guna memperkuat eksistensinya di kancah internasional.

Selain itu, pengalaman menjadi tuan rumah upacara bendera di kapal pesiar yang disaksikan oleh sepuluh negara sahabat juga menimbulkan rasa bangga yang sangat tinggi.

Dilihat dari pengakuan Ian, ia diliputi emosi saat melihat bendera merah putih berkibar saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Menurutnya, sejarah perjuangan para pahlawan Indonesia untuk merebut kemerdekaan berkelebat di kepalanya.

Kenangan ini memperkuat rasa bangganya sebagai orang Indonesia.

Perasaan hangat selalu menyelimuti para pemuda kontingen Indonesia setiap melihat bendera merah putih dikibarkan. Program pertukaran pemuda ini memperkuat rasa cinta tanah air di kalangan pemuda Indonesia yang berpartisipasi.

Oleh karena itu, pemuda yang kini berprofesi sebagai dokter gigi ini memaknai kemerdekaan Indonesia sebagai momen untuk membangkitkan semangat bangsa Indonesia dan berkontribusi dalam pembangunan negara.

Ian mengaku banyak belajar dari SSEAYP. Untuk itu, ia menyimpulkan bahwa anak muda Indonesia membutuhkan keterbukaan, toleransi dan kebanggaan di Indonesia untuk mencintai negaranya.

Adrian berpesan kepada masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda dan perempuan, untuk tidak selalu saling menyalahkan dan mulai mengambil tindakan untuk memperbaiki diri, yang merupakan kontribusi nyata bagi kehidupan negara.

Sebuah negara bisa maju jika generasi muda yang akan meneruskan tongkat kepemimpinan fokus pada penciptaan karya yang positif daripada saling mengkritik dan merendahkan.

Indonesia punya banyak hal yang bisa dibanggakan. Untuk itu, marilah kita membuka mata untuk melihat hal-hal positif dan mengembangkan harga diri untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Artikel sebelumyaPolisi menyita uang palsu Rp 1,5 miliar dari seorang dukun di Bogor.
Artikel berikutnyaPenjaga nilai negara tanamkan optimisme di HUT ke-76