Beranda News Peneliti CSIS Sebut Demokrasi Indonesia Relatif Kuat

Peneliti CSIS Sebut Demokrasi Indonesia Relatif Kuat

Selain modal sosial, Indonesia juga menikmati ketahanan demokrasi yang kuat berkat kepercayaan publik kepada pemerintah.

Jakarta (ANTARA) – Arya Fernandez, peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan ketahanan demokrasi di Indonesia relatif tinggi meski Indeks Demokrasi mengalami penurunan.

“Dengan indeks demokrasi yang turun, saya kira kita masih memiliki optimisme (untuk menjadi lebih baik lagi) karena kita memiliki ketahanan demokrasi yang kuat,” kata Arya Fernandez.

Ini ditayangkan saat dia menjadi anggota diskusi panel yang disebut What’s Viral yang diselenggarakan oleh majalah What’s Viral. Demokrasi Timur (?) di Jakarta, Rabu.

Ketahanan ini, lanjut Arya, bersumber dari modal sosial Indonesia yang kuat.

Modal ini, kata dia, dapat dilihat melalui adanya rasa saling percaya antar masyarakat, keharmonisan hidup dan sikap Indonesia sebagai negara yang berupaya menghindari konflik.

Selain modal sosial, kata Arya, Indonesia juga memiliki ketahanan demokrasi yang kuat karena kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Memercayai (kepercayaan) penduduk pada lembaga eksekutif cukup tinggi. Pertanyaannya adalah memercayai ke lembaga non-eksekutif,” kata Arya.

Perlu adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah non-eksekutif dalam rangka meningkatkan ketahanan demokrasi di Indonesia, ujarnya.

Selain itu, kata Arya, di tengah turunnya Indeks Demokrasi, Indonesia masih memiliki ketahanan demokrasi yang relatif tinggi, karena kepuasan masyarakat terhadap pemerintah masih tinggi, yakni di atas 60 persen.

“Kepuasan publik terhadap demokrasi sebagai satu-satunya sistem politik yang cocok untuk Indonesia cukup tinggi. Kalau kita lihat indikator agregat survei indikatornya 67,4 persen, dan survei terakhir 71,9 persen,” kata Arya Fernandez.

Mengenai turunnya indeks demokrasi di Indonesia, Arya menilai kondisi ini disebabkan tiga faktor.

Pertama, dia mengatakan penurunan itu karena memburuknya sistem kepartaian di Indonesia, seperti yang dicatat oleh analis Australian National University Markus Mitsner.

Markus Mitsner berpendapat bahwa kemunduran sistem kepartaian di Indonesia disebabkan oleh tiga aspek, yaitu representasi yang lemah, personalisasi politik yang meningkat, dan kurangnya demokrasi intrapartai.

Kedua, ada juga polarisasi politik yang meningkat pada dua pemilu terakhir, dan ketiga korupsi politik. Hal-hal tersebut, menurut Arya, menurunkan indeks demokrasi di Indonesia.

Artikel sebelumyaAnggota DPR: Demokrasi, Hukum dan Etika Tingkatkan Kualitas Demokrasi
Artikel berikutnyaBrigade Tanggap Darurat Kemendagri membantu korban erupsi Semeru