Beranda Hukum Pencurian barang di kawasan hunting kota Palu dan Kota Sigi semakin marak.

Pencurian barang di kawasan hunting kota Palu dan Kota Sigi semakin marak.

Di kawasan Huntap Duyu, meteran air dan kabel penerangan jalan sering dicuri.

Palu (ANTARA) – Pencurian tempat tinggal di kawasan hunian tetap (huntapas) bagi korban gempa, tsunami, dan likuifaksi di Kota Palu dan Provinsi Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) semakin marak terjadi.

Pencurian tempat tinggal tidak hanya mengakibatkan kerugian materi, tetapi juga memaksa para penyintas untuk perlahan-lahan mengisi tempat penampungan yang disediakan oleh pemerintah karena pemerintah harus memperbaharui tempat tinggal sebelum mereka siap untuk pindah.

“Di kawasan Huntap Duyu, meteran air dan kabel penerangan jalan sering dicuri,” kata salah satu penyintas, Huntap Duyu yang juga Ketua RT 06 RW 02, Kecamatan Huntap Duyu, Desa Duyu, Kota Palu, Pengran Antavirio, Jumat.

Dia menyebutkan, penyebab maraknya aksi pembobolan di tempat penampungan sementara yang dibantu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PMH) itu adalah minimnya penerangan jalan.

“Jadi mereka bisa mencuri di sini di daerah Huntap Duyu. Pencurian sering terjadi,” katanya.

Mantan Kepala Balai Besar Prasarana Permukiman Daerah Sulawesi Tengah (BPPW) Ferdinand Cana Lo mengatakan, selama beberapa tahun menjabat sebagai Kepala Balai Prasarana Permukiman Sulawesi Tengah di Kementerian PUPR, ia sering menerima laporan dan mendeteksi aktivitas di kawasan tersebut. tanah, tidak hanya di shelter di kota Palu, tetapi juga mencari bantuan dari Kementerian PUPR di desa Pombewe, Kabupaten Sigi.

“Di sana, pintu rumah hilang (dicuri), daun jendela hilang, kusennya hilang, pintu toiletnya juga hilang. Hampir semua yang bisa ditarik kembali dan memiliki nilai jual hilang,” ujarnya.

Sahabuddin, Kepala BDPR Sulteng Kementerian Dalam Negeri Sulteng, menyayangkan tindakan ilegal tersebut. Ia menegaskan, perlu melibatkan semua pihak agar aksi serupa tidak terulang kembali.

“Saya minta kepada seluruh penyintas shelter agar bisa melakukan patroli setiap malam agar tidak terjadi lagi pencurian di shelter tersebut,” ujarnya.

Dikatakannya, kelompoknya juga memiliki keterbatasan waktu dan tenaga jika ingin ikut serta mencegah pencurian, sehingga para penyintas yang tinggal di kawasan perburuan harus ikut bersama-sama mencegah aksi tersebut.

“Jumlah kami terbatas dan kami tidak tinggal di tempat penampungan sepanjang waktu, jadi saya meminta para penyintas yang sudah tinggal di tempat penampungan untuk bekerja sama dengan kepala Republik Tajikistan atau penanggung jawab perburuan untuk keamanan dan pengawasan. . Setidaknya patroli malam bergiliran,” katanya.

Artikel sebelumyaPolres Garut mengungkap maling motor mahal dalam modus tamu perumahan mewah
Artikel berikutnyaTerorisme Poso: Narapidana bersumpah cinta NKRI