Beranda Warganet Pemrosesan Makam Ulama di Ujung Pandaran Menunggu Keputusan Zuriat

Pemrosesan Makam Ulama di Ujung Pandaran Menunggu Keputusan Zuriat

Syekh Abu Hamid adalah cicit dari ulama terkenal Kalimantan Selatan, yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau lebih tepatnya Datu Kalampayan, penulis buku “Sabilal Mukhtadin”, yang banyak digunakan di beberapa negara.

Sampit (ANTARA) – Bupati Kotavaringin Timur, Kalimantan Tengah, Halikinnor mengatakan, pemerintah kabupaten bersedia membantu perawatan kubah atau makam pendeta Kalimantan Selatan di Pantai Ujung Pandaran yang keberadaannya terancam abrasi yang terus tergerus. pantai, namun masih menunggu keputusan zuriat ustadz.

“Ini semua keputusan, ada dana zuriat. Mereka yang memutuskan untuk pindah atau tidak. Ini adalah makam seorang pendeta. Kami tidak tahu apakah ada mayat di dalam makam atau tidak. Kalau mereka minta pindah, kami bantu,” kata Halikinnor didampingi Wakil Bupati Iravati di Sampit, Rabu.

Pantai Ujung Pandaran yang berjarak sekitar 85 kilometer dari pusat kota Sampit menjadi daya tarik Cotawaringin Timur karena pemandangannya yang indah. Di sebelah timur pantai terdapat kubah yang merupakan makam seorang pendeta bernama Syekh Abu Hamid bin Syekh Haji Muhammad Asad Al Banjari.

Syekh Abu Hamid adalah cicit dari seorang ulama terkenal di Kalimantan Selatan, yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau lebih dikenal dengan Datu Kalampayan, yang dikenal luas dengan kitabnya yang berjudul Sabilal Mukhtadin, yang masih banyak digunakan di beberapa negara. …

Kubah tersebut menjadi landmark religi dan banyak dikunjungi peziarah dari luar daerah. Namun kini keberadaannya terancam oleh abrasi yang terus mengikis pantai.

Jalan menuju kubah terhalang oleh abrasi, sehingga peziarah harus menggunakan perahu motor. Bahkan musholla yang berjarak beberapa meter dari kubah itu kini sudah ambruk karena pondasinya hancur akibat abrasi akibat gelombang kuat dari Laut Jawa yang menerpa pantai.

Pada Sabtu (10/7), puluhan karyawan dikerahkan untuk bahu-membahu tanggap darurat dengan membuat tanggul ratusan karung pasir. Bupati Halikinnor bahkan turun dan membuat tanggul darurat.

Sayangnya, upaya itu tidak mengimbangi laju abrasi. Kini, lebih dari sebulan kemudian, abrasi mulai menggerogoti fondasi bangunan berkubah itu. Beberapa lantai bahkan tampak tenggelam, sehingga lantai menjadi berlubang.

Video kerusakan kubah juga menyebar di media sosial, menimbulkan kekhawatiran publik. Dikhawatirkan jika tidak segera dilakukan tindakan, kondisi kubah akan rusak parah.

Sementara itu, Minggu (17/7) lalu, rombongan Ketua Zuriatul Arsyadiyah Martapura Hamdani Hamzah bertemu dengan Bupati Halikinnor dan Pj Sekretaris Daerah yang juga Kepala Direktorat Kebudayaan dan Pariwisata, Fajrurrahman di Sampit. untuk membahas masalah.

Halikinnor menegaskan, pihaknya telah menyampaikan informasi terbaru mengenai kerusakan kubah tersebut kepada Yayasan Datu Kalampayan Zuriat. Ia juga berharap pihak keluarga segera memutuskan pengobatan.

“Pemerintah daerah pada dasarnya mendukung keputusan zuriat atau keluarga, karena kami bukan pemerintah daerah yang mengambil keputusan. Pemerintah daerah hanya membantu dan memfasilitasi pembangunan atau relokasi,” kata Halikinnor.

Artikel sebelumyaPakaian Adat Presiden dan Upaya Menumbuhkan Kebanggaan Tradisi
Artikel berikutnyaKemarin, presiden mengenakan pakaian adat hingga pemilihan 2024.