Beranda Nusantara Pemkab Parimo mengimbau warga pesisir meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir rob

Pemkab Parimo mengimbau warga pesisir meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir rob

Temukan tempat yang aman segera

Parigi, Sulawesi Tengah (ANTARA) –

Pemerintah Kabupaten Parigi Mutong, Sulawesi Tengah mengimbau warga pesisir untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena banjir rob saat ini.
“Meskipun fenomena ini sering terjadi pada waktu-waktu tertentu, namun perlu diwaspadai dan dimitigasi,” kata Mutong Bambang Mahrif di Paris, Divisi Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Paris (BPBD).
Menurut dia, menurut laporan BPBD setempat, ketinggian air di Teluk Tomini saat pasang melebihi batas maksimum, sehingga air laut mengalir ke pemukiman penduduk, yang terjadi pada sore dan malam hari.
Akibat fenomena tersebut, sejumlah desa di subkawasan Parigi, Kasimbar, Tomini, Keraton, dan Mepanga dibanjiri gelombang pasang saat air pasang.
“Gelombang pasang membanjiri sekitar 30 persen rumah nelayan trans di Parigi Mutong. Meski fenomena ini dianggap biasa, namun mengganggu mata pencaharian warga,” kata Bambang.
Ia mengakui, BPBD telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi teknis terkait untuk melakukan tindakan preventif agar kondisi tersebut tidak terulang kembali.
Upaya lainnya antara lain meningkatkan sosialisasi di daerah rawan bencana dan mengajak warga menanam mangrove di sepanjang pantai sebagai penahan abrasi sekaligus meminimalkan terpaan gelombang pasang.
“Kami selalu waspada untuk memantau perkembangan fenomena ini. Kami juga mengingatkan warga jika sewaktu-waktu muncul situasi mendesak, maka segera cari tempat yang aman,” imbuhnya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Al-Jufri Palu Nur Alim mengatakan, banjir rob disebabkan oleh fase pasang surut air laut, dengan angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi secara bersamaan.
Selain itu, terdapat pancuran yang mengalir ke laut dan tertahan oleh genangan air laut yang menuju ke daratan.
Artinya, kondisi ini mempercepat pergerakan air laut ke daratan, terutama karena angin dan gelombang tinggi yang ada saat fase pasang surut, kata Alim.
Menurut dia, kondisi seperti itu bisa mengancam keselamatan jiwa jika warga sengaja berenang di laut saat angin kencang atau jika nelayan nekat melaut.
“Nelayan dan warga pesisir memiliki kearifan dan pengetahuan alam untuk melihat fenomena ini. Perampokan biasanya berlangsung seminggu atau tiga hari sebelum dan sesudah bulan purnama,” kata Alim.

Artikel sebelumyaAktivis lingkungan: Sebagian besar anak muda pernah mengalami “kecemasan lingkungan”
Artikel berikutnyaMAKI: 44 Mantan Pegawai PKT Menunjukkan Kesetiaan kepada Pemerintah