Beranda Hukum Para ahli mengatakan Anda memerlukan aplikasi perlindungan data khusus saat memasuki mal.

Para ahli mengatakan Anda memerlukan aplikasi perlindungan data khusus saat memasuki mal.

Semarang (ANTARA) – Pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha melihat perlunya sebuah aplikasi khusus di caringlindungi.id untuk mengecek kebenarannya. kode respons cepat (QR) vaksin milik calon pengunjung yang masuk mal untuk mencegah penyalahgunaan data pribadi.

“Apa adanya memindai Kode QR careprotecti.id, aplikasi tidak mengumpulkan data atau hanya bisa menampilkan nama sesuai KTP misalnya sehingga mengurangi kemungkinan pendataan ilegal,” kata Pratama Persadha menjawab pertanyaan dari ANTARA di Semarang, Sabtu malam.

Pratama yang juga Ketua Lembaga Penelitian Siber Indonesia CISSReC menyambut baik aturan masuk mal dengan syarat sertifikat vaksin COVID-19 karena membuka kembali peluang perekonomian.

Namun di satu sisi Pratama melihat perlu adanya aturan yang jelas agar tidak menimbulkan plus minus di masyarakat. Misalnya terkait dengan memindai di Kode QR di pintu masuk pusat perbelanjaan, setiap orang berhak melakukannya memindai mengajukan.

“Ini penting karena Kode QR dibuat memindai, akan muncul data pribadi masyarakat: nama, nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor telepon. Inilah yang dianggap sebagai pintu masuk kejahatan,” kata seorang mahasiswa pascasarjana di Sekolah Tinggi Intelijen Negeri (STIN).

Oleh karena itu, diperlukan pembinaan yang lebih detail dari pemerintah dan gugus tugas COVID-19. Ini, seperti yang dikatakan Pratama, dapat dipahami jika mereka yang memindai ini adalah petugas dan petugas seperti polisi, tentara, gugus tugas COVID-19, serta tenaga medis (nake) yang membantu vaksinasi dan layanan medis lainnya pelacakan

“Namun, jika orang yang melakukannya— memindai Di sisi lain, ada kekhawatiran akan terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti mengumpulkan nomor ponsel dan data dari berbagai pihak,” ujar seseorang dari Chepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Hanya nama, NIK dan nomor ponsel, kata Pratama, pencarian data lebih lanjut dapat ditambahkan dari berbagai sumber kebocoran data, seperti kebocoran data Tokopedia, yang memiliki lebih dari 91 juta data populasi yang andal beserta alamatnya. Ini bisa menjadi titik awal kejahatan perbankan, seperti yang terjadi pada wartawan terkemuka Ilham Bintang.

Menurut Pratama, yang paling bisa dilakukan salah satunya adalah pendaftaran di pintu masuk dan keluar pusat perbelanjaan, bandara dan stasiun kereta api, melihat langsung aplikasi carelindungi.id yang diinstal oleh pengguna umum.

“Kalau perlu dilampirkan KTP. Dari sini misalnya, petugas keamanan pusat perbelanjaan harus bisa mengecek,” jelasnya.

Aplikasi carelindungi.id juga dikatakan sebagai pemimpin komunitas di tengah pandemi. Dengan demikian, kinerja, keamanan, dan fleksibilitas harus dijaga dengan ketat.

Saran lain untuk aplikasi carelindungi.id, menurut Pratama, adalah mengubah palsu lokasi. Soalnya pas buka aplikasi, otomatis lokasinya aktif. Sebaiknya aktifkan atau nonaktifkan opsi ini agar tidak menjadi hoax baru bagi masyarakat.

Artikel sebelumyaKapolri minta optimalkan pos pemeriksaan kabupaten/kota di Babel
Artikel berikutnyaGen Z perlu mencermati agenda kebijakan iklim