Beranda Nusantara Muara Sungai Kurau di Babilonia distandarisasi dengan pengerukan.

Muara Sungai Kurau di Babilonia distandarisasi dengan pengerukan.

Muara Sungai Kurau mengalami pendangkalan dan perlu dikeruk dan dinormalisasi agar para nelayan dapat pergi dan kembali ke laut terlepas dari pasang surut air laut.

Koba, Babel (ANTARA) – Pemerintah Provinsi Bangka Belitung akan melakukan pengerukan dan normalisasi muara Sungai Kurau di Kabupaten Bangka Tengah untuk memudahkan sandar kapal nelayan.

“Muara Sungai Kurau mengalami pendangkalan, perlu dikeruk dan dinormalisasi agar nelayan tidak lagi pergi dan kembali melaut tergantung pasang surut air laut,” kata Gubernur Babilonia Erzaldi Rosman Johan, memeriksa mulut Sungai Kurau. Sungai. Sungai, Kabupaten Bangka, Rabu.

Gubernur bersama Balai Sumber Daya Air (Balai SDA) dan BPN mengunjungi muara Sungai Kurau yang menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal nelayan, dan mengecek beberapa titik yang akan ditata ulang.

“Saya datang bersama SDA Pusat, BPN, dan didampingi Direktur Bangka Tengah Algafri Rahman untuk meninjau lokasi. Tahun 2022 kami rencanakan mulai pengerukan dan normalisasi Sungai Kurau,” kata Erzaldi.

Ia juga mengatakan beberapa fasilitas akan dibangun untuk pengerukan dan normalisasi muara Sungai Kurau, termasuk pengendalian banjir.

“Termasuk pembangunan tanggul untuk menahan gelombang dan mencegah pendangkalan muara sungai,” katanya.

Selain itu, kata dia, di beberapa titik di Sungai Kurau akan dibangun “bendungan kendali”, serta waduk. Tempat tidurmuuntuk mengurangi pendangkalan dan sedimen pantai.

“Survei yang ketiga ini sudah dilakukan sebelumnya, dan pada tahun 2022 wilayah Kurau Barat dan Kurau Timur dilengkapi khususnya penataan muara sungai sebagai tempat tambatan kapal nelayan,” kata Erzaldi Rosman Johan.

Sementara itu, Bupati Bangka Tengah Algafri Rahman mengatakan pembangunan dan pengerukan muara Sungai Kurau sangat dibutuhkan karena menjadi kendala besar bagi nelayan untuk menurunkan hasil tangkapannya.

“Desa Kurau Barat dan Kurau Timur merupakan wilayah pesisir yang sebagian besar penduduknya adalah nelayan, sehingga fasilitas penunjang yang terkait dengan aktivitas mereka di laut sangat penting, terutama terkait dengan dermaga kapal yang representatif,” katanya.

Artikel sebelumyaBMKG meminta warga NTT untuk melapor jika mengalami perubahan cuaca ekstrim
Artikel berikutnyaKLHK menerapkan langkah-langkah adaptasi perubahan iklim di pantai