Beranda Warganet Mendes PDTT: BUMDes Bisa Jadi Penggerak Desa Kurangi Stunting

Mendes PDTT: BUMDes Bisa Jadi Penggerak Desa Kurangi Stunting

optimis desa dapat mengatasi stunting, apalagi hal ini telah dikonfirmasi oleh data desa berdasarkan SDGs untuk desa

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pertanian, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Pemukiman Kembali (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengatakan, kehadiran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bisa menjadi motor penggerak desa untuk memerangi kemiskinan dan mengurangi kemiskinan. keterbelakangan pertumbuhan (kerdil).

“Badan usaha mikro akan menjadi penggerak yang efektif bagi usaha lain di desa, seperti desa wisata, dan juga akan mengurangi kemiskinan dan kemiskinan. keterbelakangan pertumbuhan“Kata Mendes dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Mendes PDTT optimis dengan apa yang bisa ditangani desa keterbelakangan pertumbuhanApalagi hal ini telah dikonfirmasi oleh data desa berdasarkan SDGs desa.

“Data desa yang dikumpulkan oleh relawan desa mungkin berhubungan langsung dengan keluarga dan individu yang stunting, sehingga pengolahannya akan lebih mudah,” jelas Gus Halim, begitu ia biasa disapa saat mengunjungi Ketua Dewan Pengembangan Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Senin (11.08).

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 menyebabkan banyak hal yang perlu direnungkan, termasuk konsep desa wisata yang kini menjadi simbol penting pariwisata nasional.

Menurutnya, wisata alam di pedesaan harus menjadi kawasan prioritas kegiatan. Dalam proses modernisasi BUMDes, seperti pengembangan desa wisata, peran BUMDes sangat penting.

Sementara itu, GKR Bendara mengaku menekan angka tersebut. keterbelakangan pertumbuhan mencapai nol persen bukanlah hal yang mudah.

“Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, mulai dari pola makan ibu selama hamil, faktor ekonomi, pendidikan, serta perkembangan budaya,” ujarnya.

Menurutnya, data terpercaya tentang keterbelakangan pertumbuhan… Data yang dilaporkan oleh BKKBN biasanya berdasarkan persentase.

Dia mencontohkan, data BKKBN mencantumkan angka keterbelakangan pertumbuhan Kabupaten Gunung Kidul memiliki cukup banyak, meskipun jika dihitung jumlah anak di Kabupaten Sleman lebih banyak.

Salah satu yang diperjuangkan GKR Bendara adalah Program Bantuan Pengurangan Jumlah keterbelakangan pertumbuhan… Ia memberikan bantuan sebesar Rp 20 juta per anak per tahun.

“Jumlah itu sudah termasuk program katering dan pendampingan,” ujarnya.

Artikel sebelumyaPemalsuan! Pengumuman Anies-Ganjar sebagai capres dan cawapres 2024
Artikel berikutnyaPenerima Dua Dosis COVID-19 Indonesia Capai 79,2 Juta