Beranda News LPOI memperingatkan terhadap fanatisme agama yang ekstrem

LPOI memperingatkan terhadap fanatisme agama yang ekstrem

Jakarta (ANTARA) – Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Islam Ormas (LPOI) Denny Sanusi mengingatkan ada bahaya fanatisme agama ekstrem yang bisa memecah belah masyarakat.

Fanatik agama pada dasarnya Besar (baiklah. Bahkan kita harus fanatik hati-hati, karena ketika seorang fanatik mulai menyalahkan orang lain dari agama atau kepercayaan lain dan menjadi ekstrem, itu tidak dapat diterima, ”kata Denny Sanusi di Jakarta dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA pada Sabtu.

Menurutnya, fanatisme ekstrem sebenarnya hanya merugikan orang, karena bisa memancing perasaan paling benar, keinginan untuk menang bagi diri sendiri, bahkan prasangka buruk antar umat dan umat beragama.

Selain itu, ia juga mencatat peningkatan jumlah lembaga pendidikan bahkan rumah ibadah yang kini mulai menampakkan manifestasi intoleransi. Ia khawatir hal itu hanya akan memperburuk situasi di masyarakat yang kini mulai terpecah.

“Melalui penelitian saya, saya menemukan bahwa beberapa lembaga pendidikan dan bahkan rumah ibadah tidak lagi menerapkan prinsip-prinsip panggilan sebagaimana mestinya. “Tiang-tiang seruan itu sudah tidak digunakan lagi,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (DPP PITI).

Apalagi selama ini ia melihat banyak orang yang terjerumus ke dalam paham radikalisme, akibat kesalahan dalam pemilihan arisan dan guru. Oleh karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam memilih lembaga pendidikan, perkumpulan dan ulama.

“LPOI terus menghimbau agar kita berhati-hati karena jangan sampai kita salah guru yang akhirnya membawa kita pada intoleransi, kita harus hati-hati dan hati-hati agar tidak terjerumus nantinya,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa orang perlu mengetahui akar, silsilah dan bahkan sejarah “tempat belajar” dari mana mereka akan belajar. Pendekatan yang cermat dan hati-hati terhadap pilihan seperti itu pasti akan menghindari doktrin radikal dan intoleransi.

“Faktanya, ada faktor utama yang membuat seseorang mudah terjerumus ke dalam radikalisme dan intoleransi, yaitu rendahnya kearifan atau kebodohan,” ujar pria yang juga Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Umat Beragama (LPOK) Ormas ini.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa kurangnya ketajaman akan membuat seseorang sangat mudah untuk menyarankan, karena dia percaya bahwa ketidaktahuan adalah akar dari semua hal negatif. Oleh karena itu, disinilah peran organisasi berbasis agama untuk membantu memberikan pemahaman agar masyarakat tidak mudah disesatkan.

“Saya percaya organisasi keagamaan sangat penting untuk bekerja sama dengan BNPT (Badan Nasional Anti Terorisme), karena organisasi ini dapat memberikan pemahaman tentang bagaimana beragama yang baik, itu adalah fungsi organisasi massa untuk dapat tanah. “- kata pendiri dana pengembangan AMOI Muallaf (saya menjadi Muslim).

Denny mengatakan, LPOI dan LPOK, sebagai lembaga yang telah bermitra dengan BNPT, juga telah terlibat dalam memerangi fenomena radikalisme dan intoleransi yang salah satunya telah diatasi. Nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) dengan berbagai pemangku kepentingan dalam hal pemberdayaan mantan narapidana (terpidana terorisme) yang baru saja dibebaskan. Salah satunya melalui program pelatihan, pemberian modal usaha dan pembinaan selama tahap reintegrasi sosial.

“Radikalisme ini memiliki pekerjaan rumah yang harus dibiarkan dan harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, menggerakkan semua lapisan masyarakat, termasuk organisasi akar rumput,” katanya.

Untuk itu, Denny juga berpesan kepada pemerintah khususnya untuk terus meningkatkan perannya dengan program-program yang berkualitas dan berkelanjutan untuk menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mencegah agar radikalisme dan intoleransi tidak berlarut-larut dan berkembang di masa depan.

“Langkah pemerintah saat ini untuk bekerja sama dengan tokoh agama dan masyarakat sangat tepat. Namun hal ini memang perlu ditingkatkan, misalnya dengan penguatan pemahaman tokoh agama dan masyarakat, sosialisasi yang gencar ke bawah, dan kurikulum,” ujarnya.

Artikel sebelumyaVaksin itu aman kemarin, hingga revisi UU ASN melonggarkan birokrasi.
Artikel berikutnyaRPJMD Pandeglang 2021-2026 atas kesepakatan bersama