Beranda News Legislator: Bandara Kertayati bisa jadi rumah sakit untuk penanganan virus corona COVID-19

Legislator: Bandara Kertayati bisa jadi rumah sakit untuk penanganan virus corona COVID-19

Bandung (ANTARA) – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) Papa Rohanadi mengatakan dalam situasi pandemi COVID-19, Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati (BIJB) di Kabupaten Majalenka bisa dijadikan pilihan untuk bertransformasi menjadi Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kabupaten Majalenka. rumah sakit khusus untuk pasien COVID.19.

“Daripada hanya membuang waktu selfie atau tempat menginap, mungkin ini bisa jadi pilihan (dialihkan menjadi rumah sakit khusus COVID-19). Layanan dukungan obat-obatan, peralatan medis dan tenaga kesehatan. Kedengarannya berlawanan dengan intuisi, tetapi ini adalah dunia di mana apa pun bisa terjadi, ”kata Paus Rohanadi dalam sebuah pernyataan tertulis, Rabu.

Menurut perwakilan Fraksi Gerindra Jawa Barat ini, gagasan menjadikan Bandara Kertajati sebagai RS Khusus COVID-19 juga bukan satu-satunya pilihan, dan hanya mencoba menawarkan pilihan, dan jika memungkinkan, karena ada konsekuensinya. yang menyertainya, diperlukan penelitian pendahuluan.

“Bukankah Jabar kehilangan arah terkait fungsi BIJB Kertajati? Sekarang ada peluang yang bisa dijadikan pilihan,” ujarnya.

Dikatakannya, jika jumlah warga yang terpapar COVID-19 terus bertambah, maka akan dibutuhkan lebih banyak tempat untuk merawat pasien, dan kemudian jika rumah sakit tidak bisa lagi menerima ini, maka akan dibutuhkan tempat yang lebih luas sehingga orang tidak bisa lagi berada. malu.

Menurut saya, dalam situasi saat ini, salah satu opsi yang bisa dilakukan adalah Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertayati.

Adapun rencana untuk membuat tempat Pemeliharaan, memperbaiki, dan pemeriksaan (MRO) Pesawat TNI dan Polri juga butuh waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Apalagi, serah terima PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad serta relokasi kedua perusahaan itu tidak mudah dan lagi-lagi memakan waktu lama.

Dikatakannya, ada masalah besar bagi negara saat ini, yakni meningkatnya kasus dan kematian akibat virus corona di Indonesia.

“Kalau memang butuh tempat untuk mereka yang terpapar, saya kira BIJB Kertajati bisa digunakan. Memang, jika disetujui oleh semua pihak terkait, tentu bisa dilayani cukup banyak pasien dari daerah sekitar Kertajati. Misalnya Kabupaten Majalenka, Kabupaten Indramayu, bahkan Kabupaten dan Kota Cirebon. Bahkan mungkin untuk pasien di Jawa Barat,” ujarnya.

Untuk menuju dan dari Bandara Kertajati relatif mudah, katanya, melalui tol Chipali dan tol Kadipaten-Jatibarang.

Lain halnya jika pengobatan dilakukan di sana, harus jauh dari penularan penduduk, katanya.

Menurutnya, jika melihat ukuran wilayah yang ada, bandara Kertayati tidak kalah luasnya dengan banyak bandara lain di Tanah Air.

Dengan luas 1.040 hektar (dari yang direncanakan 1.800 hektar), Bandara Kertajati berada di urutan kedua setelah Bandara Soekarno Hatta.

Karena itu, kata Paus, dengan luas wilayah yang demikian, Bandara Kertajadi bisa menjelma menjadi rumah sakit terbesar di Indonesia.

“Luas lahan seperti itu jauh lebih besar dari RSUP mana pun jika ingin mengembangkannya. Padahal, masih sangat fleksibel jika salah satu sudutnya dijadikan tempat pemakaman umum (TPU),” ujarnya.

Konsekuensinya, lanjut Paus, jika usulan ini disetujui, tidak menutup kemungkinan masyarakat tidak lagi mengenal Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, melainkan Rumah Sakit Jabar (RSJB) atau Rumah Sakit Penyakit Menular (RSPM) atau Regional Rumah Sakit Umum (RSUD). Kertajati.

“Lebih penting lagi, hanya politik dan ketulusan. Dan apakah kita siap untuk semua ini,” katanya.

Artikel sebelumyaGubernur Jawa Timur Minta Maaf atas Penanganan COVID-19 yang Buruk
Artikel berikutnyaPGI: Singkirkan perpecahan politik dan fokus memerangi COVID-19