Beranda Warganet Komisi VIII DPR RI Dukung Perubahan Sistem Penyaluran Bantuan Sosial BPNT

Komisi VIII DPR RI Dukung Perubahan Sistem Penyaluran Bantuan Sosial BPNT

Jakarta (ANTARA) – Komisioner VIII Fraksi Demokrat Ahmad menyatakan mendukung perubahan sistem penyaluran bantuan sosial (bansos) menjadi bantuan pangan nontunai (BPNT).

Sebab selama ini ada kendala untuk menjamurnya BPNT di e-Warung Gotong Royong atau e-warong yang sudah ditunjuk dan bekerjasama dengan perbankan.

“Dengan sistem baru nanti, seperti yang dijelaskan menteri (Mensos Tri Rismaharini), nantinya tidak akan dibeli dalam bentuk makanan, tetapi tunai, tetapi menggunakan kartu,” kata Ahmad usai audiensi di Kementerian. Bidang Sosial. Kantor Bisnis, Jakarta, Rabu.

Ahmad mengatakan, dulu BPNT diberikan dalam bentuk sembako atau sembako.

Sistem baru seperti itu, kata dia, akan lebih efektif bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam menentukan bantuan pangan.

“Agar uang itu benar-benar digunakan untuk keperluan sehari-hari, terutama selama masa COVID-19,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Sosial Tri Rismaharini mengatakan pihaknya saat ini sedang menggarap aplikasi Any-Waroeng sebagai konsep baru program e-store gotong royong menggantikan pendahulunya, E-Warong.

Mensos Risma mengapresiasi program E-Warong (Kios Gotong Royong Elektronik) yang dicanangkan pada tahun 2016 ini, memungkinkan penjualan barang jauh lebih mahal kepada masyarakat miskin penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), sehingga Any- Waroeng menjadi formula baru penyampaian bantuan sosial yang adil.

“Kemarin (I-Varong) banyak yang dibuntuti Kejaksaan Agung dan polisi. Salah satu kesimpulannya E-Warong tidak bisa dimonopoli, maka konsepnya Any-Warong,” kata Mensos Tri Rismaharini dalam webinar Seri II BPK RI, Selasa.

Menteri Sosial Risma mengatakan Kemensos nantinya akan membahas terlebih dahulu dengan Himbara Bank, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia kemungkinan digitalisasi sistem bansos yang berkeadilan*.

Artikel sebelumyaPresiden minta kepala daerah asah PPKM mikro
Artikel berikutnyaSekolah tatap muka di Surabaya masih menunggu perkembangan COVID-19