Beranda Nusantara KLHK: Konservasi penting untuk mitigasi perubahan iklim di sektor maritim

KLHK: Konservasi penting untuk mitigasi perubahan iklim di sektor maritim

Kami akan memasukkan perhitungan karbon dari potensi mangrove lainnya.

Jakarta (ANTARA) – Direktur Jenderal Pengelolaan Perubahan Iklim (PPI) Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Lakshmi Dwanti menyoroti pentingnya penerapan langkah-langkah konservasi dalam upaya memerangi perubahan iklim di sektor kelautan dan pesisir.

“Penting untuk dicatat bahwa keberhasilan implementasi konsep manajemen perubahan iklim di sektor kelautan dan pesisir sangat bergantung pada implementasi aspek perlindungan pesisir dan laut itu sendiri,” kata CEO PPI Lakshmi Dwanti dalam diskusi virtual. pada pemantauan karbon biru dari Jakarta pada hari Rabu.

Hal ini dikarenakan ekosistem pesisir seperti mangrove dan alga dapat menyimpan dan menghasilkan karbon atau biasa disebut karbon biru.

Saat ini, diyakini bahwa karbon biru harus diperhitungkan saat menghitung volume emisi gas rumah kaca (GRK) dan penyerapannya. Saat ini, lima sektor utama yang menjadi fokus upaya penurunan emisi gas rumah kaca adalah kehutanan, energi, pertanian, dan industri.

Namun, potensi karbon di ekosistem mangrove kini juga akan dipertimbangkan dalam hal kapasitas penyimpanan karbonnya.

“Sektor kelautan, termasuk karbon biru, sebenarnya masuk dalam perhitungan, terutama mangrove atau lahan di mangrove. Kami akan terus menggali dan memasukkan perhitungan karbon dari potensi mangrove lainnya,” ujarnya.

Lakshmi menjelaskan, Indonesia terus memberikan visi tentang laut dan perubahan iklim, bersama dengan negara-negara kepulauan lainnya di dunia, mengingat potensi karbon biru.

Indonesia memiliki banyak potensi karbon biru mengingat terdapat sekitar 3,3 juta hektar hutan bakau yang dapat menyimpan karbon sebesar 950 tCO2e per hektar dan sekitar 3 juta hektar rumput laut yang dapat menyimpan 119,5 tCO2e per hektar.

Artikel sebelumyaPenanaman mangrove untuk mencegah abrasi pantai
Artikel berikutnyaUniversitas Muhammadiyah Sumatera Barat memeriksa kerangka harimau sumatera