Beranda Hukum Ketahanan humanistik dalam perang melawan pandemi

Ketahanan humanistik dalam perang melawan pandemi

Jakarta (ANTARA) – Perang melawan COVID-19 mungkin menjadi pertempuran terberat yang pernah diperjuangkan umat manusia di abad ini, mengingat harus berhadapan dengan musuh yang tidak terlihat.

Ada kalanya satu negara dianggap berhasil menangani pandemi COVID-19, namun di beberapa titik negara lain tiba-tiba menghadapi lonjakan jumlah kasus yang tidak terduga.

Kemudian menjadi sulit untuk mengklaim kemenangan dalam pertempuran yang belum selesai.

Meski begitu, setidaknya ada pola yang tergambar dalam upaya menekan penyebaran COVID-19 yang bisa terus diterapkan, di antaranya ketegasan, kedisiplinan, dan kepatuhan.

Seiring dengan itu, vaksinasi juga dianggap sebagai “titik kritis” dalam pandemi COVID-19, sehingga upaya ini perlu ditingkatkan dan dilanjutkan hingga kekebalan masyarakat terwujud.

Peran aparatur dan penegak hukum memang sangat penting selama berlakunya aturan penghematan, yang seringkali memiliki konsekuensi yang saling bertentangan.

Peran Polri di Indonesia tidak berbeda dengan Polri dalam memerangi pandemi, serta mencegah penyebaran COVID-19.

Bahkan Presiden Jokovi juga telah menginstruksikan untuk mengefektifkan peran Polri dalam melakukan Rapim TNI-Polri di Istana Negara Jakarta mulai awal tahun ini.

Dalam penanganan pandemi di wilayah Polri, diusulkan untuk mengoptimalkan kerjasama dengan SDM yang ada di sisi lain di bidang kesehatan, dan khususnya dengan Satgas Pusat dan Daerah Percepatan Penanganan COVID-19 Pandemi. Sehingga pemberdayaan seluruh SDM untuk melawan pandemi COVID-19 akan lebih maksimal karena saling bahu membahu dan saling melengkapi.

Pemerintah juga meminta Polri berperan aktif dalam penerapan protokol kesehatan yang ketat dan penerapan 3T yaitu tes, tracing (pelacakan) dan pengobatan (processing).

Misalnya kerjasama dengan Pusquesmas atau rumah sakit daerah agar tidak hanya melayani kesehatan, tetapi juga berperan aktif, baik itu pengambilan data, pengolahan, pengobatan dan edukasi.

Kini, banyak kalangan, mulai dari anggota DPR RI, akademisi, hingga anggota Komisi Kepolisian Negara (Kompolnas), memuji langkah Polri untuk membantu pemerintah menekan angka penularan COVID-19.

Dalam banyak hal, polisi dinilai telah mengambil langkah terbaik dalam memerangi pandemi COVID-19, termasuk melakukan vaksinasi hingga ke tingkat Polsek.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Syahroni berharap semua pihak harus bersinergi membantu mengatasi pandemi COVID-19 agar mereda.

Ia juga memuji langkah “keadilan” yang dilakukan polisi dengan mengutamakan fungsi pendidikan di atas kriminalisasi pelanggar PPKM. Terlepas dari itu, dia meminta polisi untuk terus menindak tegas pihak-pihak yang menyebarkan berita bohong terkait pandemi COVID-19.

Last but not least, Polri diharapkan tetap mengedepankan sisi kemanusiaan, namun tetap teguh pada tanggung jawabnya di masa pandemi.

komunitas polisi

Menurut Wakil Ketua Komisi III DPR RI, anggota Kompolnas Poengky Indarti dan sosiolog Universitas Nasional Dr Ermawati Chotim, M.Si juga memuji langkah yang dilakukan Polri dan TNI dalam pengendalian penularan Covid-19.

Semua orang tahu tentang peran polisi sebagai lembaga penegak hukum yang sangat membantu masyarakat di masa pandemi.

Ia juga menyambut baik gagasan untuk memprioritaskan peran masyarakat dalam menekan penularan COVID-19 melalui gerakan polmas memerangi masyarakat yang patuh 5M dalam rangka menekan penularan COVID-19.

Hingga saat ini, beberapa program ketertiban umum telah dilaksanakan yang telah menunjukkan hasil nyata dalam pencegahan penularan COVID-19.

Poenki mencontohkan desa Tanggu di seluruh tanah air, yang dibentuk dengan prioritas kolaborasi masyarakat dan diterima dengan baik serta dilaksanakan oleh masyarakat.

Masyarakat dapat memperkuat diri, disiplin, dan bertanggung jawab kepada orang lain.

Sosiolog Universitas Nasional Jakarta, Dr Ermawati Chotim M.Si mengatakan, masyarakat Indonesia memiliki modal amal yang besar untuk mendukung gerakan polmas menekan penularan COVID-19.

Ia mengingatkan, Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai negara paling dermawan di dunia, karena warganya mudah melakukan amal, suka membantu orang, dan mudah menjadi sukarelawan.

Untuk itu, Ermavati menyarankan agar pemerintah mendorong peran serta masyarakat dalam pembentukan gerakan polisi masyarakat untuk menekan penularan COVID-19.

Proses tersebut tidak selalu harus dilembagakan, tetapi dapat berlangsung dengan lancar pada waktu dan tempat tertentu.

Penafian wajah

Jumlah kasus COVID-19 di negara ini masih tinggi: per 27 Juli 2021, ada 3.239.936 kasus positif COVID-19, di mana 2.596.820 sembuh dan 8.835 kematian.

Dampaknya, PPKM Darurat yang sebelumnya diperpanjang hingga 25 Juli 2021 diperpanjang lagi menjadi 2 Agustus 2021, mengubah timeline PPKM Darurat menjadi PPKM level 3-4.

Kepala Departemen Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Polisi Paul. Prabovo Argo Yuvono masih secara terbuka menolak kebijakan pemerintah.

Jika dulu penolakan bersifat pribadi, kini ada kecenderungan gerakan massa yang terkonsolidasi. Misalnya, munculnya protes di sejumlah daerah.

Namun, Polri menekankan bahwa mereka akan memprioritaskan pendekatan yang meyakinkan untuk tindakan ini.

Oleh karena itu, Polri memerlukan pembenahan lebih lanjut sebagai langkah penyadaran masyarakat yang kredibel yang taat dan disiplin terhadap protokol kesehatan, yang pada gilirannya bermuara pada dukungan penuh pemerintah dalam setiap kebijakan penanggulangan kasus COVID-19.

Polri dan TNI memprioritaskan vaksinasi dan penyaluran bantuan sosial untuk membantu pemerintah mengendalikan pandemi COVID-19, kata Argo.

Selain di Polda dan Polres, pihaknya akan membuat posko di tempat-tempat umum untuk melakukan vaksinasi dan edukasi kepada masyarakat, menurut Kabag Humas Polri.

Ini semua tidak lebih dari fakta bahwa orang lebih berhati-hati dalam memerangi pandemi. Dan bagi masyarakat tanah air, ketegasan manusiawi adalah cara yang baik untuk menekan penyebaran COVID-19.

Artikel sebelumya104 Warga Jayapura Ditahan Selama Operasi Penuntutan
Artikel berikutnyaKilas Nusantara di antara malam