Beranda Hukum Kekerasan terhadap perempuan di Penajam Kaltim cenderung menurun

Kekerasan terhadap perempuan di Penajam Kaltim cenderung menurun

…. per September ini telah menurun menjadi 4 kasus.

Penajam, Kaltim (ANTARA) – Kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim) cenderung menurun, sehingga mendorong pihak terkait untuk terus meminimalisir kejadian tersebut.

“Pada tahun 2019 dan 2020, terdapat 8 kasus kekerasan terhadap perempuan, namun hingga September jumlahnya turun menjadi 4 kasus,” kata PPU City Amina, Pj Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Kependudukan dan Keluarga. Perencanaan (DP3AP2KB) di Penajam, Senin.

Amina berharap tahun ini hanya ada 4 kasus yang bertahan, dan tidak ada penambahan kasus hingga akhir tahun 2021, karena pihaknya telah dan terus melakukan berbagai upaya, antara lain melalui pembentukan Unit Perlindungan Anak/Perempuan Terpadu di Puskesmas. Tingkat Masyarakat (PATBM). di desa/kelurakhan.

Unsur yang termasuk dalam unit PATBM antara lain kepala desa atau lura, babinsu, bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat setempat. Hakikat keanggotaan PATBM adalah sukarela.

Misi anggota PATBM adalah membantu melaporkan setiap tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak dan kemudian mencegah kekerasan terhadap mereka di desa atau kabupaten masing-masing.

Selain itu, kata Amina, didampingi Nurkaida, Kabag Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pihaknya juga melakukan sosialisasi, bekerja sama dengan pihak terkait untuk melakukan pencegahan karena pelaku tindakan ini akan berhadapan dengan hukum.

Dalam hal penanganan kasus, ia kembali menjelaskan bahwa setelah lembaga menerima laporan baik dari korban maupun pihak lain, pihaknya terus memberikan pendampingan kepada korban.

“Kami segera memberikan bantuan, bekerja sama dengan pihak terkait untuk turun langsung ke lapangan yaitu dinas sosial, kepolisian dan psikolog, karena korban biasanya trauma, sehingga membutuhkan bantuan psikolog untuk pulih,” ujarnya lagi.

Dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), misalnya, lanjut Nurkaida, selain menjenguk korban, pihaknya juga mendampinginya ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi, bahkan dalam beberapa kasus ia diantar ke rumah setengah jalan dengan dibantu petugas. seorang psikolog.

Artikel sebelumyaDPRD Medan Belum Izin Bangun Terminal Amplas
Artikel berikutnyaKementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sulawesi Selatan bekerja sama dengan 20 OBH di bidang litigasi dan non-litigasi.