Beranda News Juru bicara DPR mengatakan memiliki identitas Indonesia tidak berarti menentang orang asing

Juru bicara DPR mengatakan memiliki identitas Indonesia tidak berarti menentang orang asing

Identitas nasional juga tidak menghilangkan identitas budaya daerah.

Jakarta (ANTARA). Ketua DPR RI Poin Maharani mengatakan, memiliki kepribadian Indonesia dan menghargai budaya negara bukan berarti menolak budaya asing.

Poin juga mengajak Karang Tarun, sebagai organisasi kepemudaan, untuk membangkitkan semangat generasi muda dalam membangun karakter bangsa, seperti terlihat pada webinar “Pengarusutamaan Pemuda dalam Pencegahan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional,” Sabtu.

“Karang Taruna harus berperan aktif dalam penciptaan nama. bangsa dan karakter konstruksi… Perlu saya ingatkan bahwa memiliki individualitas dalam budaya Indonesia bukan berarti kita melawan budaya asing,” kata Poin dalam keterangannya, Sabtu.

Dalam menciptakan jati diri bangsa, ia mengapresiasi bahwa Indonesia tidak bisa mengisolasi diri dari pengaruh budaya asing. Menurutnya, dengan identitas bangsa yang kuat, budaya asing dapat tersaring dan larut dalam budaya nasional.

“Identitas nasional juga tidak menghilangkan identitas budaya daerah. Karang Taruna, sebagai bagian dari generasi muda Indonesia, dalam hal ini harus menjadi sumber ide dan inovasi baru bagaimana merangkul generasi muda,” ujarnya.

Di tengah krisis pandemi COVID-19, Poin juga mengajak Karang Tarun untuk meningkatkan semangat gotong royong yang bisa dimulai dari hal terkecil di lingkungan sekitar.

“Di masa pandemi COVID-19, kita semakin membutuhkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia seperti gotong royong untuk diwujudkan oleh seluruh elemen bangsa; ketika kita kumpulkan, itu akan menjadi gotong royong skala besar, ”katanya.

Ia juga berharap generasi muda mampu melestarikan warisan besar para pendiri bangsa yaitu berupa nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari Panchasil, NKRI, UUD 1945 dan Bhinnek Tunggal Ika. .

Generasi muda bangsa Indonesia juga harus mampu mengantisipasi akibat negatif dari perkembangan teknologi informasi yang dapat menimbulkan disorientasi generasi muda sebagai warga negara Indonesia.

“Jangan sampai generasi penerus bangsa kita tercabut dari akar budaya bangsa, baik dari segi etika maupun moralitas masyarakat bangsa, serta tidak tenggelam dalam pusaran kehancuran akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. , ”kata Poinne lagi.

Artikel sebelumyaSatgas Pamtas RI-Timor Leste memotivasi mahasiswa untuk memulai pertemuan tatap muka
Artikel berikutnyaMenko PMK: Jangan buang waktu untuk menimba pengalaman