Beranda Hukum JPU menyerahkan berkas 13 manajer investasi terdakwa Jivasraya.

JPU menyerahkan berkas 13 manajer investasi terdakwa Jivasraya.

Jakarta (ANTARA) – Kejaksaan Negeri (JPU) Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat telah mengajukan kasus 13 manajer investasi yang terlibat dalam kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

“Oleh karena itu, kami tegaskan hal ini terkait dengan pertimbangan kepastian hukum, agar hal ini tidak berujung pada penyelesaian kasus yang bersifat jangka panjang, sehingga kami upayakan secepatnya untuk dilimpahkan, meski saat ini kejaksaan belum ada. menerima salinan putusan sela yang lengkap,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat Bima Suprayoga dalam konferensi pers Virtual di Pusat Informasi Hukum Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Jumat.

Bima mengatakan, kasus 13 tersangka manajer investasi yang dirujuk hari ini dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan jual beli instrumen keuangan pada reksa dana milik PT Asuransi Jiwasraya selama 2008-2018.

Menurut dia, putusan sela Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta dalam kasus 13 terdakwa manajer investasi Senin (16 Agustus) lalu, disebabkan adanya perbedaan pandangan antara jaksa dan majelis hakim terkait penerapan pasal 141.c UU tersebut. KUHAP tentang penggabungan perkara menjadi satu huruf.

“Jadi, kita lihat di alinea pertama ada masalah terkait perbedaan persepsi majelis hakim yang membuat putusan sela, kemudian persepsi jaksa,” ujarnya.

Bima menilai penggabungan perkara dalam surat dakwaan sudah sesuai dengan ketentuan ayat c pasal 141 KUHAP, dan hak untuk mengadili perkara itu kewenangan kejaksaan, bukan pengadilan.

Namun, lanjutnya, jaksa, karena pertimbangan kepastian hukum dan tidak adanya penyelesaian kasus dalam jangka panjang, berupaya untuk secepatnya mengalihkan kasus tersebut.

“Ini dilakukan oleh jaksa atas dasar adendum keadilan yang belum diadopsi, dan itu sendiri tidak adil,” katanya.

Dengan kembalinya penyerahan surat dakwaan individu tersangka, yakni 13 materi perkara, upaya kejaksaan untuk melawan kandas.

“Mengapa demikian karena, mengingat upaya perlawanan hakekatnya hanya masalah pemerintahan formal, bukan masalah substansi atau substansi,” kata Bima.

Bima menambahkan, dalam kasus ini kejaksaan lebih mengutamakan pencapaian keadilan substantif daripada keadilan prosedural, serta mengesampingkan ego sektoral dalam penanganan dan penyelesaian perkara.

“Dengan pengalihan kasus ini, kami berharap Kejaksaan Tinggi Jakarta Pusat berharap kontroversi seputar putusan sela yang terjadi dalam pemberitaan tersebut dapat diselesaikan dan agenda utama pembuktian kebenaran substantif dapat dilanjutkan. “,- harap Bima.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta membatalkan dakwaan terhadap 13 perusahaan pengelola investasi yang awalnya didakwa melakukan korupsi dalam mengelola transaksi pembelian dan penjualan instrumen keuangan pada reksa dana milik PT Asuransi Jiwasraya selama 2008-2018.. .

Jika mempertimbangkannya, majelis hakim menilai kasus 13 perusahaan penanaman modal itu tidak saling berkaitan, sehingga ketika menggabungkan materi perkara para terdakwa, majelis hakim sulit menilai perbuatan masing-masing. terdakwa.

Semula, kejaksaan Kejaksaan Agung menyatakan bahwa tindakan 13 perusahaan penanaman modal tersebut tidak sesuai dengan ketentuan pasal 15 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 43/POJK.04/2015 tentang Kode Etik Manajer Investasi, yang menyatakan bahwa manajer investasi dapat menerima komisi jika secara langsung bermanfaat bagi manajer investasi dalam proses pengambilan keputusan investasi untuk kepentingan klien dan tidak menimbulkan benturan kepentingan dengan klien dan/atau merugikan kepentingan klien.

Akibat perbuatan para terdakwa tersebut, negara mengalami kerugian total sebesar Rp 10.985 triliun.

Tiga belas perusahaan tersebut adalah PT. Dhanawibawa Investment Management, sekarang bernama PT Pan Arcadia Capital, PT. Manajemen Investasi LLC, PT. Pinnacle Persada Investama, PT. Millennium Capital Management, sebelumnya PT Millennium Danatama Indonesia, PT. Manajemen Aset Prospera, PT. MNC Asset Management, sebelumnya PT. Manajemen Aset Bhakti.

Jumat depan Maybank Asset Management, sebelumnya bernama PT GMT Asset Management atau PT Maybank GMT Asset Management, PT. Gap Capital, PT. Capital Asset Management Services, sebelumnya PT. Modal Utama, PT. Pool Advista Asset Management sebelumnya adalah PT. Kharisma Asset Management, PT. Corfina Capital, PT. Treasure Fund Investama dan PT. Manajemen Aset Sinarmas

Artikel sebelumyaPB SEMMI Minta Pemerintah Perhatikan Impor Antigen Rapid Test Kit
Artikel berikutnyaKata Akil: “Keragaman merajut berawal dari lingkungan keluarga”