Beranda News DMDI memuji undang-undang anti-Muslim DPR AS

DMDI memuji undang-undang anti-Muslim DPR AS

Pengesahan RUU anti-Muslim karena banyak anggota DMDI adalah negara minoritas Muslim.

Jakarta (ANTARA) – Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) menyambut baik sikap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat yang menyetujui pengesahan RUU Anti-Muslim (RUU).

Menurutnya, hukum anti-Muslim merupakan salah satu cara untuk memerangi sikap fobia terhadap umat Islam tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di negara-negara lain di dunia.

“Kami menyambut positif (RUU anti-Islamofobia) secara positif karena akan bermanfaat, terutama di negara-negara dengan minoritas Muslim. Namun, undang-undang ini belum diputuskan untuk menjadi undang-undang. Kami (DMDI) tinggal menunggu saja,” ujar Wapres DMDI. Komisaris Jenderal (Purn.) Shafruddin, dikutip Antara, dikutip dari transmisi tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

DMDI mendorong Senat AS untuk juga menyetujui RUU tersebut sehingga RUU anti-Muslim dapat disahkan di Kongres dan diajukan kepada Presiden AS Joe Biden untuk pengesahan RUU tersebut.

“Kami menantikan pengesahan RUU tersebut, karena banyak anggota DMDI adalah negara minoritas Muslim. Saya kira ini akan membuat posisi bangsa di berbagai negara lebih menguntungkan,” kata Siafruddin.

DMDI adalah organisasi Muslim lintas batas dengan anggota kelompok minoritas Muslim termasuk Kamboja, Vietnam, Thailand, Sri Lanka, Jepang dan Korea Selatan.

RUU anti-Muslim diperkenalkan oleh anggota DPR AS dari faksi Partai Demokrat Ilhan Omar.

Omar, wanita Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres, mengusulkan RUU tersebut setelah lelucon kebencian / fobia terhadap Islam oleh anggota DPR dari Partai Republik Lauren Bobert.

Bobert pada saat itu mengejek Omar dan menyebutnya sebagai “pasukan jihad”.

Setelah Demokrat diperkenalkan ke DPR, RUU itu disetujui pekan lalu dengan 219 suara mendukung dan 212 menentang.

“Kami menghadapi banyak kekerasan dan diskriminasi terhadap Muslim di seluruh dunia,” kata Omar saat berpidato di sesi pengambilan keputusan di Dewan Perwakilan Rakyat AS.

Dia melanjutkan, “Islamofobia adalah masalah dunia dan kita harus memimpin upaya global untuk mengatasinya.”

Artikel sebelumyaMelindungi Masyarakat Adat di bawah Konstitusi
Artikel berikutnyaGugus Tugas Gabungan Penanganan COVID-19 Palangka Raya Gencar Lakukan Razia Keamanan dan Kesejahteraan