Beranda Hukum CC menuntut agar pedagang satwa dilindungi dihukum dengan hukuman maksimal

CC menuntut agar pedagang satwa dilindungi dihukum dengan hukuman maksimal

Kejahatan satwa liar – kejahatan

Balikpapan (ANTARA) – Pusat Perlindungan Orangutan (Orangutan Protection Center) dari Orangutan Protection Organization (COP) berharap pemerintah memprioritaskan pemberantasan kejahatan terhadap satwa liar, terutama terhadap orangutan (Pongo pygmaeus), dan menghukum pedagang satwa liar semaksimal mungkin.

“Kejahatan satwa liar adalah kejahatan serius,” kata Koordinator Kejahatan Satwa COP Satriya Vardhana dalam penjelasan yang diterima di Balikpapan, Jumat.

Momen peringatan Hari Orangutan Sedunia 19 Agustus 2021 ini dimanfaatkan COP untuk mengingatkan pentingnya pelestarian dan perlindungan primata orangutan di hutan alam Indonesia.

Salah satu kewajiban yang diharapkan adalah menerapkan hukuman maksimal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pasal 40 ayat 2 yaitu penjara selama 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.

Menurut laporan COP, hukuman maksimal bagi mereka yang memperdagangkan satwa liar yang dilindungi, khususnya orangutan, adalah 2 tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

“Seorang induk orangutan hampir dipastikan dibunuh untuk diambil bayinya untuk dijual,” kata Vahyuni ​​Mangunsarkoro, juga dari COP.

Oleh karena itu, Mahkamah Konstitusi sangat berharap agar pihak yang bertanggung jawab dalam kasus perdagangan orangutan di Samarinda, Kalimantan Timur yang berhasil diungkap polisi pada April tahun lalu, dihukum seberat-beratnya.

Saat itu, Ditreskrimsus Mabes Polri dibantu COP dan OKI menggerebek pedagang hewan di Samarinda. Tim menangkap seorang pedagang bernama Max dan mengambil 1 anak orangutan betina, yang ditempatkan di ember kecil di bagasi mobil.

“Saat ini kasusnya masih di pengadilan,” kata Vahyuni.

Bayi orangutan sedang dirawat sebagai barang bukti oleh Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Labanan, Berau, Kalimantan Timur.

Selain itu, menurut investigasi COP, kasus perdagangan orangutan masih terus terjadi, meskipun metode yang lebih modern dan terorganisir digunakan dalam kejahatan ini. Perdagangan sekarang juga dilakukan secara online atau online.

COP mencatat bahwa pada tahun 2021, otoritas Indonesia berhasil mengungkap setidaknya 5 kasus perdagangan orangutan secara ilegal. Dari 5 kasus, 7 orangutan berhasil diselamatkan. Keenam orangutan tersebut adalah orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan 1 orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Februari lalu, KSDA Center Yogyakarta dibantu COP juga mengevakuasi dua anak orangutan dari rumah manusia di Semarang, Jawa Tengah. Dua orangutan sumatera diduga menjadi korban perdagangan orangutan antar pulau.

“Pengawasan dan penegakan hukum yang lebih ketat dan lebih berani adalah satu-satunya cara untuk mengurangi kejahatan terhadap satwa liar,” kata Satriya Vardhana.

Artikel sebelumyaGempa berkekuatan magnitudo 5,4 melanda Timor Tengah Utara, NTT.
Artikel berikutnyaUntuk alasan ini, setiap orang mendapatkan vaksin yang berbeda.