Beranda Warganet CareProtect, bagian dari pertahanan diri

CareProtect, bagian dari pertahanan diri

Keamanan data pribadi menjadi perhatian utama pemerintah

Jakarta (ANTARA) – Sejak 13 April 2020, menyusul ditemukannya virus corona jenis SARS-CoV-2 yang masuk ke Indonesia, pemerintah menetapkan COVID-19 sebagai bencana alam.

Hingga hari ini, lebih dari satu setengah tahun telah berlalu sejak virus penyebab COVID-19 terus menghantui masyarakat di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Sebagai langkah pencegahan penyebaran virus, selain kegiatan 3M seperti pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan melakukan 3T (pengujian, pelacakan, perawatan) pemerintah juga menggunakan teknologi untuk melacak penyebaran virus melalui aplikasi PeduliLindung.

Aplikasi yang diunduh melalui smartphone ini memudahkan masyarakat untuk mengakses rekam medis yang dibutuhkan untuk keperluan pribadi atau pekerjaan.

Warga RT 005 RW 005 Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rida (23) mengaku aplikasi PeduliLindung memudahkan mereka terutama di tempat-tempat umum.

“Sebenarnya saya hanya menggunakannya untuk pergi ke pusat perbelanjaan, sangat mudah ketika daftar (masuk) dan tahu kalau daerah itu daerah aman,” ujarnya.

Menurut Rida, aplikasi ini cukup mudah digunakan. Ketika seseorang masuk ke tempat umum seperti mall atau angkutan umum, biasanya penjaga pintu atau petugas keamanan menanyakan kepada masyarakat apakah mereka memiliki aplikasi atau tidak.

Selain itu, mereka akan menunjukkan jika seseorang tidak memiliki aplikasi PeduliLindung, maka mereka dapat keluar dari antrian terlebih dahulu untuk mengunduh dan mendaftarkan data pribadi mereka di aplikasi. Sedangkan bagi yang memiliki, akan diarahkan scan barcode yang terpampang di papan di pintu masuk.

Papan barcode yang dipindai disediakan oleh pengelola mal di setiap pintu masuk, termasuk mal di tempat parkir.

Proses pemindaian (scan) dapat dilakukan dengan membuka aplikasi terlebih dahulu. Di layar utama, pengguna dapat mengklik bilah pemindaian kode QR dan kemudian mengarahkan kamera ponsel ke kode batang yang ditetapkan. Nantinya, aplikasi akan memberikan informasi detail jumlah orang yang ada di mall dan kapasitasnya.

Setelah detailnya keluar, pengguna dapat mengklik panel daftar (masuk) dan tunjukkan petugas keamanan di pintu masuk sebagai tanda bahwa dia telah mengkonfirmasi bahwa dia ada di lokasi itu.

Jika ada yang ingin logout, klik saja bilahnya memeriksa (keluar) di APP, data kehadiran akan direkam.

Fitur pelacakan dan kesehatan

Rida mengaku terkejut mengetahui aplikasi PeduliLindung juga dapat mempermudah pelacakan kasus aktif pada orang yang terpapar COVID-19. Mengumpulkan data seperti waktu kedatangan atau keberangkatan orang yang terdaftar di aplikasi dapat membantu pemerintah melacak kontak dekat, katanya.

“Misalnya ada sesuatu telah terjadi (sesuatu terjadi) seolah-olah ada sesuatu yang positif tentang tempat ini. Tanggal berapa biar gampang daftar prestasi (tracking) semua orang yang ada di sana hari itu dan di waktu yang bersamaan,” ujarnya sambil tertawa.

Elang (24), mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, juga menilai aplikasi PeduliLindung membantu meningkatkan pertahanan diri karena memiliki fitur yang dapat memberikan informasi tentang risiko COVID-19 di suatu wilayah.

“Setelah mengunduh aplikasi PeduliLindung, saya Jadi saya merasa aman karena bisa melihat zonasi risiko proliferasi dari tingkat daerah paling bawah seperti Kelurakhan,” kata Elang menjelaskan pengalamannya dengan aplikasi tersebut.

Sebagai mahasiswa yang gemar bepergian ke berbagai tempat, ia mengakui bahwa aplikasi PeduliLindung tidak hanya memberikan informasi zonasi, tetapi juga membantunya meyakinkan petugas keamanan bahwa ia sehat dan divaksinasi.

Alexander K. Ginting, Kepala Gugus Tugas COVID-19 Departemen Kesehatan, mengatakan pelacakan tidak hanya dapat dilakukan melalui pendataan, tetapi juga melalui penggunaan warna pada aplikasi.

Warna pada aplikasi PeduliLindung dapat berubah berdasarkan data dari orang yang telah divaksinasi atau telah menjalani tes kesehatan terkait COVID-19, seperti tes polymerase chain reaction (PCR).

Ketika seseorang datang ke tempat umum dan melakukannya pemindaian, warna aplikasi dapat berubah tergantung pada status kesehatan orang yang bersangkutan. Bahkan, aplikasi juga dapat menunjukkan berapa kali seseorang telah divaksinasi.

Jika warna pada aplikasi seseorang adalah hijau, maka orang tersebut diketahui telah menerima dua dosis vaksin. Jika seseorang baru saja menerima satu suntikan, lampirannya akan berwarna kuning. Orang yang belum divaksinasi sama sekali akan berwarna merah.

Dia mengatakan bahwa warna aplikasi akan berubah menjadi hitam jika seseorang mengonfirmasi tes positif COVID-19. Namun, warna hitam akan berubah setelah 14 hari tergantung pada keadaan pengguna setelahnya.

“Makanya setiap masuk mall, ada warna yang bilang gitu. Bagi yang positif, kalau hitam, langsung dikirim ke isoterm (isolasi terpusat) atau dipulangkan untuk isolasi mandiri. ” kata Alexander.

Alexander mengatakan di aplikasi PeduliLindung bahwa pemerintah telah menyiapkan artikel di mana masyarakat dapat memperoleh informasi tentang tempat-tempat kegiatan vaksinasi berlangsung. Selain itu, masyarakat dapat melihat sertifikat vaksinnya.

Aplikasi ini telah disederhanakan sebanyak mungkin bagi orang-orang untuk melakukan rutinitas harian mereka. Sederhanakan pengumpulan semua dokumen medis dalam satu wadah dan lindungi pengguna dan orang lain. Dengan kata lain, aplikasi PeduliLindung saat ini adalah paspor perjalanan.

“Jadi aplikasinya bermanfaat bagi yang berminat, seperti paspor yang dibawa kemana-mana. Sebagai alat untuk mengontrol kapan dia divaksin, saat menjalani PCR, sehingga semuanya tercatat di aplikasi,” jelasnya.

Data aman dilindungi

Anas Maaruf, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), menegaskan aplikasi PeduliLindung memiliki perlindungan data pribadi semua pengguna, yang menjamin keamanan data tersebut.

Sebagai langkah untuk melindungi semua data pribadi milik pengguna agar tidak bocor ke pihak yang tidak bertanggung jawab, Anas mengabarkan pihaknya menggunakan sistem super security atau keamanan super.

“Keamanan data pribadi menjadi perhatian utama pemerintah, termasuk keamanan jaringan,” ujarnya.

Sistem supersecurity telah diterapkan pada perangkat server di Pusat Data Nasional oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bekerja sama dengan Badan Sibernetika dan Kriptografi Nasional (BSSN).

Langkah ini diambil karena Kementerian Kesehatan memiliki sejarah panjang kerjasama dengan BSSN di bidang pengelolaan teknologi informasi.

Anas mengatakan untuk implementasi di sektor masyarakat, aplikasi PeduliLindung saat ini sedang dalam tahap uji coba di enam area bisnis, yaitu perdagangan jasa seperti pusat perbelanjaan, pasar modern, pasar tradisional, dan toko.

Aplikasi PeduliLindung juga digunakan di sektor transportasi, baik darat, laut maupun udara, serta di sektor pariwisata, termasuk gastronomi dan olahraga. Di bidang pendidikan, aplikasi diterapkan mulai dari SD, SMP, dan SMA.

Anas juga menyebutkan bahwa perlu juga menggunakan aplikasi PeduliLindung untuk kegiatan berbasis komunitas di kantor atau pabrik. Aplikasi ini juga menyasar sektor keagamaan, termasuk saat seseorang akan mengunjungi tempat ibadah.

Kedepannya, aplikasi PeduliLindung akan menjadi bagian dari komunitas yang akan mengurus aktivitas sehari-hari selama pandemi COVID-19 belum berakhir.

Artikel sebelumyaPutri Mako dari Jepang akan menikah pada Oktober 2021
Artikel berikutnyaVP dan Mendikbudristek Pertimbangkan PTM Terbatas di Bogor