Beranda Warganet BRIN: Prestasi Adi Utarini menjadi pendorong bagi peneliti untuk terus berkarya

BRIN: Prestasi Adi Utarini menjadi pendorong bagi peneliti untuk terus berkarya

Jakarta (ANTARA) – Laksana Tri Handoko, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan prestasi peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Adi Utarini yang masuk dalam 100 Orang Berpengaruh versi majalah TIME bisa menjadi motivasi. untuk peneliti. di Indonesia untuk terus berkarya.

“Tentu ini menjadi kebanggaan bagi kita semua, khususnya masyarakat peneliti di Indonesia,” ujarnya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Handoko mengatakan, prestasi guru besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM ini juga akan memotivasi generasi muda Indonesia untuk tertarik pada profesi peneliti.

Sementara itu, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Satrio S. Brojonegoro mengatakan, prestasi Adi Utarini menunjukkan bahwa ilmuwan Indonesia diperhitungkan di dunia.

“Dia memiliki prestasi yang luar biasa, bukti bahwa ilmuwan kita berkelas dunia,” katanya.

Satrio mengatakan Adi Utarini bisa menjadi contoh bagi ilmuwan lain yang dengan ketekunan dan tekad yang luar biasa, bisa menjadi ilmuwan kelas dunia.

Selain masuk dalam daftar 100 Orang Berpengaruh TIME pada tahun 2021, Adi Utarini juga dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh ilmuwan paling berpengaruh di dunia pada tahun 2020 menurut jurnal ilmiah Inggris Nature.

Prof. Adi Utarini, M.Sc. in Health Care, Ph.D., lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tahun 1989, dilanjutkan dengan gelar M.Sc. di bidang Kesehatan Ibu dan Anak dari University of London pada tahun 1994, dan gelar M.Sc. di bidang Kedokteran. Gelar kesehatan masyarakat pada tahun 1998 dan PhD dalam bidang filsafat pada tahun 2002 dari Universitas Ume di Swedia.

Pada 2011, perempuan kelahiran Yogyakarta, 4 Juni 1965 ini dianugerahi gelar guru besar kesehatan masyarakat.

Adi Utarini adalah ilmuwan wanita yang memimpin uji coba terobosan teknologi pemberantasan demam berdarah di Indonesia.

Hasil penelitian Adi Utarini menurunkan angka kejadian DBD hingga 77 persen di beberapa kota besar di Indonesia dengan melepaskan nyamuk modifikasi.

Adi Utarini juga menduduki peringkat 311 peneliti terbaik Indonesia versi Webometrics tahun 2017.

Berdasarkan informasi yang dimuat di situs Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, Adi Utarini mengajar mata kuliah kebijakan dan manajemen mutu serta metode penelitian.

Selain mengajar dan penelitian, Adi Utarini saat ini masih bermain pianis, tenis meja dan bersepeda.

Artikel sebelumyaPengyoman IV terbalik di perairan Nusakambangan
Artikel berikutnyaTim SAR gabungan menyelamatkan penumpang peluncuran di perairan Halsel