Beranda Nusantara BPPT menggunakan bibit flare lokal untuk rekayasa cuaca.

BPPT menggunakan bibit flare lokal untuk rekayasa cuaca.

TMC Berbasis Torch – Teknologi Terbaru dalam Distribusi Cloud

Jakarta (ANTARA) – Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Weather Technology Center (BBTMC) akan menggunakan bibit obor indoor CoSAT untuk operasional Weather Change Technology (TMC) mendatang.

“TMC berbasis obor adalah teknik penyemaian awan terbaru yang melepaskan partikel kimia ke awan melalui obor atau flare,” kata Samsul Bahri, chief engineer BBTMC BPPT, dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Jumat.

Obor CoSAT (Cloud Seeding Agent Tube) 1000 PT Pindad digunakan dalam operasi perubahan cuaca untuk menaikkan ketinggian air di Danau Toba pada April 2021.

Operasi perubahan cuaca untuk menaikkan muka air di Danau Toba juga merupakan tonggak kemerdekaan Indonesia dari ketergantungan pada obor impor dari negara lain.

Produk flare CoSAT yang sebelumnya digunakan dalam operasi TMC diimpor dari Amerika Serikat.

Flare adalah bahan semai higroskopis yang terbuat dari NaCl dan CaCl2.

Obor kemudian akan membakar dan menghasilkan partikel seperti asap, dengan asap yang bersifat ringan, sehingga mudah menyebar dan dianggap sebagai media yang paling efisien untuk menghantarkan bahan higroskopis ke seluruh awan.

Samsul mengatakan BPPT dan PT Pindad (Persero) sebenarnya telah berhasil memproduksi obor dalam negeri sejak 2010. Namun, sertifikat kesesuaian baru dikeluarkan pada November 2020.

CoSAT 1000 sangat praktis, cepat dan mudah dioperasikan. Partikel CCN yang dihasilkan pada flare atau CoSAT 1000 sangat kecil, sekitar 0,7-3,3 mikron, dan tidak terjadi aglomerasi bahan semai.

Samsul mengatakan keunggulan TMC berbasis obor adalah rudal CoSAT 1000 memiliki waktu loading hanya beberapa menit, siap ditembakkan oleh pesawat terbang, jadi ini adalah maksimal untuk “window opportunity” atau penyemaian dalam “kehidupan”. menjangkau.” “Periode pertumbuhan awan.

“Faktor ketinggian bandara tidak relevan, sehingga lebih efisien dan efisien serta berkontribusi terhadap keberhasilan TMC tinggi,” ujarnya.

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT Yudi Anantasena mengatakan, potensi TMC dari tahun ke tahun semakin meningkat, terutama potensi TMC berbasis flare CoSAT 1000 yang memiliki nilai ekonomi tinggi ke depan, baik untuk menjamin ketersediaan reservoir. . atau air danau, mencegah bencana hidrometeorologi dan mendukung tumbuhnya kegiatan di sektor pertambangan.

Selain sektor kebencanaan, peran obor TMC diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 2021 tentang Konservasi Danau Prioritas Nasional mencantumkan 15 danau prioritas nasional dari Sumatera Utara hingga Papua.

Koordinator Seksi Umum BPPT BBTMC Budi Harsoyo mengatakan pengurusan izin pembakaran, pengangkutan, penyimpanan, alih guna, kepemilikan, dan pemusnahan memakan waktu lama. Izin tersebut masih berlaku untuk waktu yang singkat dan perlu diperbarui.

Sedangkan TMC sangat bergantung pada keberadaan awan dan perubahan cuaca sangat cepat serta peluang cuaca sering hilang dan operasi tertunda atau tidak selesai karena persyaratan dan izin obor belum terpenuhi.

Sementara suar TMC tergolong bahan peledak, Budi mengatakan tidak berdaya ledak tinggi, tetapi berdaya ledak rendah.

“Karena misi TMC sering terjadi secara tiba-tiba dan membutuhkan respon yang cepat dalam keadaan darurat, birokrasi perizinan obor dapat dilihat lebih disederhanakan atau dihilangkan dibandingkan dengan bahan peledak lainnya,” katanya.

Kepala BPPT BBTMC John Arifian mengatakan suar TMC telah diuji sejak 1999 untuk mengisi DAS Larona (Danau Matano, Mahalona dan Tovuti) di Sulawesi Selatan.

Pekerjaan tersebut dilakukan dalam kerjasama penelitian dengan tiga negara saat itu yaitu Indonesia diwakili oleh BPPT, Amerika Serikat diwakili oleh Atmospheric Incorporated, diikuti oleh Weather Modification Incorporated, dan Kanada yaitu PT. Inco, Tbk yang saat itu menggunakan DAS Larona.

Selama ini metode flare sudah beberapa kali digunakan dalam operasi TMC, baik menggunakan pesawat Piper Cheyenne maupun dari darat menggunakan ground generator tower, seperti pada operasi penanggulangan banjir TMC di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). dan kemudian operasi TMC untuk pembangkit listrik tenaga air dan pertambangan.

Pada kesempatan terpisah, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa ke depan, teknologi Artificial Intelligence dan Internet of Things (IoT) diharapkan dapat membantu BBTMC, khususnya dalam menjalankan operasional TMC.

Hammam mengatakan bahwa kecerdasan buatan memberikan prediksi berbasis bukti tentang keadaan area target TMC, sedangkan IoT dapat mendukung otomatisasi dalam implementasi TMC, terutama TMC/CoSAT 1000 berbasis obor menggunakan metode ground generator.

Selain itu, telah dilakukan penelitian tentang penggunaan drone atau drone yang digunakan untuk mengirimkan benih wabah CoSAT ke cloud.

Artikel sebelumyaUntuk menghormati peringatan 48 tahun Godbless, konser virtual akan diadakan pada 31 Agustus
Artikel berikutnyaIndonesia berkomitmen untuk mendukung pendanaan lingkungan dan iklim.