Beranda Hukum Bea dan Cukai mencegat 10.505 botol minuman keras ilegal dari Singapura

Bea dan Cukai mencegat 10.505 botol minuman keras ilegal dari Singapura

Total potensi kerugian negara dari tindakan ini mencapai Rp 16,8 miliar, termasuk bea masuk, PPN impor, PPH impor, dan pajak cukai yang harus dibayarkan kepada negara.

Belitung, Babel (ANTARA) – Bea Cukai Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung bersama tim DJBC Sumatera Timur menyelundupkan 10.515 botol minuman keras etil alkohol (MMEA) ilegal dari Singapura ke Jakarta.

“Kami berhasil mengamankan 10.515 botol MMEA (mengandung etil alkohol) tanpa memasang pita cukai di perairan Pulau Belitung,” kata Kepala Bidang Pengawasan dan Kepabeanan Bea dan Cukai TMP C KPPBC Tanjung Pandan, Jerry Kurniawan di Tanjung Pandan, Jumat.

Penuntutan dan pengamanan barang bukti ribuan botol minuman yang mengandung MMEA, kata dia, merupakan langkah interaksi dan pengawasan multilevel antara Kanwil Khusus DJBC Kepri, Kanwil DJBC Sumut dan Bea dan Cukai Tanjung Pandan.

Dalam aksi tersebut, karyawan berhasil menyita 1.021 koli atau 10.515 botol minuman beralkohol ilegal atau tanpa stiker pita cukai golongan C berbagai merek dan merek.

Pengungkapan ini dikatakan berasal dari informasi mengenai pengiriman MMEA ilegal dari luar negeri menggunakan kapal kayu tujuan Jakarta dan masuk ke perairan Pulau Belitung.

“Barang ini tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi di Pulau Belitung, tetapi tujuan akhir barang ini adalah Jakarta. Pulau Belitung hanya digunakan sebagai titik transit saja,” ujarnya.

Jerry menambahkan, untuk mengelabui petugas, ribuan botol dikeluarkan dari kapal kayu untuk kemudian dikirim ke Jakarta dengan bantuan jasa ekspedisi.

“Rezim melewati jalur laut, mereka mengalihkan fasilitas ini ke darat untuk menggantikan moda transportasi laut, yaitu menggunakan jasa truk ekspedisi ke Jakarta dengan kapal Ro-Ro,” katanya.

Menurutnya, penyelundupan MMEA secara ilegal merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2007 tentang Bea Cukai.

“Total potensi kerugian negara dari tindakan ini mencapai Rp 16,8 miliar, termasuk bea masuk, PPN impor, PPH impor, dan pajak cukai yang harus dibayarkan kepada negara,” katanya.

Dikatakannya, Bea Cukai Tanjung Pandan masih melakukan penelitian dan pengembangan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam penyelundupan ini.

“Sebagai pemilik minuman ini, kami masih melakukan penyelidikan dan penelitian,” ujarnya.

Artikel sebelumyaLembaga penegak hukum adalah alat yang efektif untuk memadamkan kebakaran hutan
Artikel berikutnyaKPC Konfirmasi 7 Saksi Manajemen Proyek Biro PMR Musi Banyuasin