Beranda News Anggota DPRA mengatakan hak-hak banyak anak Indonesia tidak dihormati

Anggota DPRA mengatakan hak-hak banyak anak Indonesia tidak dihormati

Masih banyak tantangan dan tantangan dalam upaya perlindungan anak.

Banda Aceh (ANTARA) – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi (DPRA) Aceh Darwati A Ghani mengatakan masih banyak hak anak di Indonesia yang belum terwujud karena membutuhkan perhatian dari semua pihak.

“Kami prihatin dengan situasi anak-anak Indonesia saat ini yang membutuhkan perhatian dari semua pihak. Masih banyak terjadi peristiwa kekerasan terhadap anak, anak jalanan dan tidak terpenuhinya hak-hak anak,” kata Darvati A Ghani di Banda Aceh, Jumat.

Darvati mengatakan, beberapa hak anak masih belum terwujud, yaitu hak untuk bertahan hidup, hak untuk mempertahankan dan mempertahankan hidup, hak untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dengan perawatan yang benar-benar baik.

“Masih banyak anak yang kebutuhan gizinya tidak terpenuhi dan tidak mendapatkan jaminan kesehatan,” ujarnya.

Saat itu, kata Darvati, hak anak tidak dihormati dalam hal perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan penelantaran. Hal ini dibuktikan dengan sangat banyaknya kasus kekerasan terhadap anak. Menurut Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Aceh, 170 kasus kekerasan terhadap anak Aceh telah dilaporkan.

Selain itu, hak atas pertumbuhan dan perkembangan anak, hak atas pendidikan dan hak untuk mencapai taraf hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial tidak dihormati.

Hal ini, kata dia, dibuktikan dengan tingginya angka stunting nasional yang menempati urutan keempat dunia dan kedua di Asia Tenggara, yakni 27,26 persen pada 2019, atau melebihi toleransi WHO sebesar 20 persen.

“Aceh yang lebih memprihatinkan, menurut data Dinas Kesehatan Aceh tahun 2019, sebesar 34,02 persen. Selain itu, masih banyak anak-anak yang tidak memiliki akses pendidikan yang baik, masih ada anak-anak yang menyeberang sungai untuk bersekolah. sekolah. sekolah”,- kata seorang anggota komisi I. DPRA.

Apalagi, lanjut Darvati, hak untuk berpartisipasi dan hak menyampaikan pendapat atas segala hal yang menyangkut anak belum terwujud.

Menurutnya, hingga saat ini masih banyak anak yang tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, termasuk perencanaan, sehingga seringkali perencanaan tidak memperhatikan hak dan kebutuhan anak serta perlindungannya.

Darwati mengatakan pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menegakkan hak-hak anak dengan disahkannya Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002, serta Undang-Undang Aceh melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2019 tentang pelaksanaan tindakan pengobatan anak. Kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Namun, hal itu belum terlalu efektif karena masih banyak permasalahan dan tantangan dalam upaya perlindungan anak,” ujarnya lagi.

Oleh karena itu, Darvati berharap agar pemerintah khususnya di Aceh bersama para pemangku kepentingan dapat menyebarluaskan informasi tentang hak-hak anak kepada semua lapisan masyarakat, organisasi, orang tua di kalangan anaknya sendiri.

Darwati mengapresiasi perlunya inspirasi untuk mengubah situasi dan kondisi anak-anak Indonesia, atau Aceh pada khususnya, guna menciptakan generasi emas di masa depan.

Kemudian diharapkan semua pihak dapat mengadvokasi perubahan perilaku, sikap dan pola perlindungan anak guna mendorong pengembangan kebijakan program yang lebih ramah anak.

“Di Hari Anak Nasional, mari lindungi anak, persiapkan generasi emas masa depan,” ujar Darwati A Ghani.

Artikel sebelumyaPartai NasDem Percepat Target Vaksinasi Jabar 30.000 Dosis
Artikel berikutnyaNama mantan Jaksa Agung R. Soprapto diabadikan sebagai nama jalan.