Beranda News Analis mempertanyakan kuesioner calon Panglima TNI

Analis mempertanyakan kuesioner calon Panglima TNI

Jajak pendapat calon panglima TNI sangat aneh

Jakarta (ANTARA) – Analis Sosial Politik Universitas Jakarta (UNJ) Dibujuk Badrun mempertanyakan jajak pendapat yang dilakukan oleh Setar Institute Calon Komando TNI, yang menominasikan salah satu calon Komando TNI sebagai calon terkuat.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, Ubedilan mengatakan pergantian Panglima TNI bukan karena pilihan publik, melainkan pilihan presiden dan persetujuan DPR. “Jajak pendapat calon Panglima TNI sangat aneh,” katanya.

Diyakini, jajak pendapat calon panglima TNI menunjukkan ada logika aneh dalam rencana heboh pergantian Panglima TNI bulan depan.

“Secara metodologis menggunakan metode pengambilan sampel untuk secara sengaja atau pengambilan sampel yang ditargetkan… Responden juga menyebutkan 100 orang ahli yang diseleksi namun tidak menyebut siapa-siapa,” kata Ubedillah.

Persuaded menegaskan, pergantian Panglima TNI merupakan hal yang lumrah dan lumrah. Apalagi TNI juga memiliki mekanisme sirkulasi elit yang sudah ada dan harus diikuti. Mekanisme sirkulasi elite TNI, berdasarkan UU 34 Tahun 2004, menyebutkan bahwa seorang Panglima TNI dapat dijabat secara bergantian oleh pejabat tinggi yang aktif dari setiap dimensi kekuasaan.

“Oleh karena itu, Panglima TNI biasanya bergiliran di setiap perwira angkatan darat, laut, dan udara. Kali ini sebenarnya hak panglima angkatan laut,” tegas Ubedillah.

Meyakini bahwa, dari sudut pandang akademis, mengawasi penelitian Setara Institute telah mengurangi kredibilitas lembaga.

Sebelumnya, hasil survei SETARA menyimpulkan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Yudo Margono diakui oleh sejumlah pakar sebagai calon terbaik. jabatan Panglima Angkatan Bersenjata menggantikan Marsekal TNI Hadi Tiajanto.

“Secara keseluruhan, Andika Perkasa mengungguli kandidat lainnya pada empat dimensi (yaitu) kejujuran, penerimaan (acceptability), kemampuan dan daya tanggap, sedangkan Yudo Margono unggul dalam aspek kesinambungan (sustainability). Namun, perbedaan skor untuk masing-masing kandidat dapat diabaikan. .” ujar Ihsan Yosari, peneliti hukum dan hak asasi manusia di Setar Institute, saat presentasi virtual hasil penelitian tersebut.

Parameter dan skor mengacu pada perkiraan yang digunakan oleh SETARA saat melakukan survei pendapat ahli. Studi tersebut melibatkan setidaknya 100 pakar pertahanan, keamanan, dan hak asasi manusia dari universitas dan organisasi masyarakat sipil.

SETARA menggunakan lima dimensi: kapabilitas, integritas, daya tanggap, akseptabilitas, dan kontinuitas.

Artikel sebelumyaDemokrat percaya bahwa saksi yang sebenarnya membantah klaim kubu Moeldoko di PTUN.
Artikel berikutnyaKunjungan Ketua Umum PBNU ke Lierboyo