Beranda Hukum Amnesty Indonesia meminta kondisi penjara yang lebih baik di Indonesia

Amnesty Indonesia meminta kondisi penjara yang lebih baik di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Ousman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, meminta kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I (Lapas) Tangerang, Banten yang menewaskan 41 narapidana, bisa menjadi pendorong perbaikan kondisi penjara di seluruh Indonesia.

“Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban, ini bukan kebakaran biasa, tetapi juga menyentuh masalah hak asasi manusia. Kejadian ini sekali lagi menunjukkan urgensi penanganan masalah penjara di Indonesia yang sarat dengan pelanggaran HAM,” kata Usman dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu di Jakarta.

Apalagi, menurut Usman, para napi dan napi menempati Lapas dengan kelebihan kapasitas.

“Tahanan dan narapidana sering ditempatkan di penjara yang penuh sesak dan menimbulkan ancaman bagi kehidupan dan kesehatan mereka. Mereka juga orang-orang yang berhak atas kondisi penjara yang layak dan hak atas kesehatan,” kata Usman.

Menurut Usman, semua narapidana dan narapidana berhak atas perlakuan yang manusiawi dan bermartabat.

“Tempat penahanan harus memiliki ruang, penerangan, ventilasi dan ventilasi yang memadai. Kejadian seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Keterbatasan daya tampung Lapas dengan overcrowding menjadi akar permasalahan utama dalam sistem peradilan pidana di Indonesia,” ujarnya. – tambah Usman.

Salah satu langkah yang dapat segera dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengubah orientasi politik kebijakan kejahatan ringan, termasuk penggunaan narkoba.

Pemerintah, kata Usman, dapat membebaskan mereka yang seharusnya tidak ditahan, termasuk tahanan hati nurani dan orang yang ditahan berdasarkan klausul karet Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Penahanan dan pemenjaraan orang hanya karena mereka secara damai menyatakan pendapatnya tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun, terutama dalam situasi di mana ada “kelebihan” kapasitas penjara, yang membahayakan kesehatan, bahkan kehidupan narapidana, terutama saat pandemi. hari ini,” kata Usman.

Pemerintah diundang untuk bertanggung jawab dan segera menyelidiki penyebab kebakaran dan memastikan bahwa semua hak keluarga korban dihormati.

Pada tanggal 8 September 2021 sekira pukul 01:45 waktu Moskow, terjadi kebakaran di blok C 2 Lapas Kelas 1 Tangerang, Banten, yang diduga akibat korsleting akibat kurangnya perawatan instalasi listrik.

Akibat kebakaran tersebut, 41 napi tewas, dan delapan lainnya luka-luka. Api berhasil dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran sekitar pukul 03.15 WIB.

Menurut Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Jasonna Laoli, penjara itu 400 persen penuh sesak.

Artikel sebelumyaCegah keramaian, Pemkot Langsa matikan lampu di malam hari
Artikel berikutnyaPolisi Jawa Tengah menindak perdagangan anak-anak